What If … [part 1]

Author :  @dbling826

Judul : What If …

Kategori : Continued

Cast :

– Choi Ha Seok (readers)

– Leeteuk

– Super Junior Members

– Choi Ha Seok Family

part 1 – part 2part 3part 4part 5part 6part 7part 8

***

Prolog

Akhirnya sampai juga! Aku ingin berteriak. Tapi, tak mungkin. Walau lahir di sini, aku tidak besar di sini. Hmm, aroma udara yang segar, bebas polusi, seperti taman dekat rumahku yang dipenuhi pohon rimbun dan semak belukar yang tertata rapi sangat terasa di sini. Aku menatap atap tempat yang baru beberapa menit aku pijak. Ya ampun! Aku merasa berada di alam terbuka.  Atapnya tinggi sekali. Mataku merasa tidak menemukan ujung dari atap tempat ini. Siapakah arsitek yang merancang tempat ini? Ehh, bukan! Siapakah kuli bangunan yang membuat tempat ini? Yapp! Pertanyaan itu lebih tepat. Aku menyeret bahagia koperku, siap membelah Bandara Internasional Incheon.

Flashback

“Kamu mau jadi stylist, kan?” eomma tiba-tiba masuk kekamarku menanyakan hal itu. Aku yang sedang membaca komik saja terkejut dibuatnya.

“Mau sih. Tapi, aku mau jadi penerjemah kali ini, ma” jawabku tetap fokus pada komikku.

“Yang benar saja. Masa kau mengubah cita-citamu semudah itu. Minggu depan kau akan ke Korea. Kau diterima bekerja disebuah manajemen artis terkenal disana. Eomma sudah bilang sama teman eomma yang bekerja disana. Katanya ada lowongan buat free-stylist sepertimu”

“Korea? Jinjjayo eomma?” tanyaku tak percaya. Eomma menggangguk pasti.

“Ini tiket pesawat dan paspormu. Kata teman eomma itu, kau akan di training selama tiga bulan sebagai free-stylist sebelum ditetapkan sebagai stylist untuk artis mereka” ujar eomma menyerahkan paspor dan tiket pesawat padaku untuk keberangkatan sabtu depan. “Selama training kau akan tinggal di rumah bibi Park. Tapi, setelah kau resmi diterima bekerja disana, kau harus tinggal di apartement. Kau harus mandiri” ucap eomma sebelum beranjak dari kasurku.

Kamsahamnida, eomma! Saranghaeyo” teriakku sambil memeluk eommaku hingga ia terduduk lagi dikasurku. “Tapi, aku kan sudah bekerja di salon kakaknya Jea. Masa aku meninggalkan mereka begitu saja” aku melepaskan pelukanku. Eomma mengeryitkan dahinya.

“Bekerja apanya. Kau seperti costumer mereka. Pekerja di sana lebih banyak melayanimu daripada kau yang melayani pelanggan” aku hanya tertawa mendengar perkataan eomma barusan.

“Ehh, kalau boleh tau. Apa nama manajemen tempatku bekerja nanti? JYP?” tanyaku penasaran sekaligus antusias. Aku sangat bahagia bila bisa menata rambut Seulong, Nichkhun. Ahh~ tak terbayangkan.

“Hmm, kalau tidak salah namanya . . .” eomma mencoba mengingat-ingat nama kantor tempat teman SMAnya dulu kuliah sambil berjalan keluar kamarku “Ah iya. SM namanya” ucap eomma santai sambil menutup pintu kamarku.

Mwo~! SM?!” jeritku tak percaya. Eomma sudah keluar dari kamarku sehingga tidak mendengar jeritan terkejutku barusan.

Aku berlari menuju laptopku yang bertengger di atas meja belajar. Bukannya menelpon Jea bahwa aku akan berangkat ke Korea untuk bekerja. Kedengarannya seperti mau jadi TKW. TKW untuk SM siapa juga yang akan menolak. Aku mungkin tidak addict hal-hal yang berbau korea, karena aku berdarah Korea. Nama Koreaku Choi Ha Seok. Tapi, karena aku tinggal di Indonesia sejak usia 3 tahun, aku memakai nama Inggrisku, Hana. Darimana nama Choi? Itu nama belakang ayahku. Ibuku orang Indonesia yang menyelesaikan SMA dan kuliahnya di Korea. Karena jatuh cinta dan menikah dengan seorang pemuda tampan bernama Choi Hyun Seo yang tak lain adalah ayahku, aku mendapatkan nama belakang juga.

Aku langsung masuk ke account twitterku. Untunglah dia sedang online, gumamku ketika membaca salah satu tweets yang muncul di timeliningku.

@specialteukie oppa, I’m going to Korea soon ^^ I want to meet you. aku mengetik perlahan keyboard laptop tercintaku. Aku me-mentions pada seorang Korea yang telah kukenal selama 3 bulan terakhir. Aku tidak mengenal siapa dia sebenarnya. Tapi, dia mengharapkan aku mengenalnya sebagai Leeteuk, salah satu member Super Junior. Katanya, dia salah seorang fans Leeteuk. Dia selalu membalas mention-ku sehingga aku tertarik untuk selalu mengirim tweets padanya hari tiap hari. Aku rasa dia laki-laki. Tapi, dia tak mau menyebutkan gendernya. “It’s my private” balasnya saat itu. Ahh, pasti dia tampan gumamku setelah selesai mengirim beberapa tweets perkenalan diri padanya beberapa bulan yang lalu.

@hana_choi really? When’ll you leave? For holiday? Ia membalas tweetku barusan. Aku tersenyum.

@specialteukie no~ I’ll work as stylist at SM. I’ll see you.. lol

@hana_choi ahh, I must be so busy later ^^ but, I hope I can meet you

@specialteukie okay ^^ you’re a big star in Korea.. I’’ll so happy if meet you later. See ya in Korea~ aku menutup pembicaraan kami.

@hana_choi I hope I won’t disappoint you later. See ya.. Dissapoint? Mengecewakan? Apa maksudnya? Aku menutup laptopku lalu beranjak tidur. Aku tidak sabar menceritakan semuanya pada Jea besok.

***

“Apa, kau akan ke Korea? Kerja di SM?” Jea histeris mendengar ceritaku.

Ya! Kita ini ditempat umum. Tenang sedikit kenapa?” ujarku pelan sembari memperhatikan sekeliling. Aku merasa tiap orang mengawasi kami setelah mendengar teriakan Jea barusan.

Jea ikut-ikutan memperhatikan sekeliling “Maaf. Apa benar yang kau katakan tadi” tanyanya lagi.

Aku mengganguk “Minggu depan aku akan berangkat”

“Yahh, kau akan meninggalkanku sendiri. Kau tidak kuliah?”  ucapnya bernada sedih.

“Suaramu itu tinggikan lagi. Kenapa seperti menghadapi kematian? Aku kan kerja. Pasti sering pulang ke Indonesia. Appaku masih mengurus bisnisnya disini”

“Aku berteriak, kau menyuruhku diam. Kau ini aneh”

“Maafkan aku” aku tersenyum. “Tidak apa-apa kan aku pergi” nadaku ikut-ikutan menjadi sedih. Persis seperti dialog di drama Korea.

“Itu nadamu juga seperti mau menghadapi kematian” ledek Jea. “Tapi, katamu tadi kau akan bekerja di SM. Berarti bisa ketemu f(x) dong!” Jea kehilangan kesadarannya lagi.

“Aku masih akan ditraining untuk tiga bulan. Mungkin saja aku yang jadi stylistnya Amber nanti” aku memanasi Jea.

“Aku ikut ya?” pinta Jea ketika mendengar nama Amber. Ia bisa buta segalanya. Jangankan melihat, mendengar namanya saja sudah hilang akal. Apalagi bertemu dengan Amber. Ia sangat mengidolakan Amber. Terkesan aneh perempuan mengidolakan perempuan. Tapi menurutnya, Amber adalah satu-satunya perempuan termacho dan tercool di dunia.

“Mana bisa. Aku kan mau bekerja. Aku mungkin tidak kuliah dulu tahun ini. Mungkin tahun depan mendaftar disana”

“Bahagianya bisa kesana. Yasudah. Hati-hati kau disana, ya” Jea memelukku. Bahunya bergetar.

“Kau menangis?” tanyaku seperti bisikan. Jea melepaskan pelukannya.

Pabo!” umpatnya. “Ingat dulu waktu kita bermain ayunan di TK pertama kali. Bahasa Indonesiamu masih aneh” Jea mengingatkan aku waktu masuk TK. Dua tahun di Indonesia, aku jarang keluar rumah sehingga aku masih fasih bahasa Korea. Aku hanya bisa mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia saat itu. Jea lah yang menjadi guru bahasa Indonesiaku pertama kali.

“Waktu itu aku kasihan padamu. Kau sendiri di ruangan kelas. Makanya aku menghampirimu. Saat aku bicara ‘kau mau main ayunan?’ kau malah terlihat bingung. Aku juga ikut-ikutan bingung saat itu” cerita Jea. Aku tertawa kecil. Aku masih mengingatnya.

“Setelah kutunjuk yang mana itu ayunan, kau malah bergumam ‘ohh, geune’ tampangmu polos sekali. Sama seperti barusan” cela Jea lalu tertawa. Aku ikut-ikutan tertawa.

“Kau mau main ayunan?” tanyanya tiba-tiba.

Geune? Kaja!” ajakku senang. Aku akan merindukanmu, Jea.

Flashback –end-

“Mana pintu keluarnya?” gumamku memperhatikan tiap pilar tinggi yang kelihatan seperti pintu raksasa.

Aku mendengar suara riuh meneriakkan Super Junior, salah satu boyband favorit Jea. Aku juga menyukai mereka, tapi tidak segila Jea. Aku suka leadernya yang berkharisma. Karena itu, aku mau ngobrol dengan @specialteukie oppa yang tidak kukenal sama sekali lewat dunia maya. Aku mengganggapnya real teukie oppa. Dia juga berharap dipanggil demikian. Kadang aku berpikir, @specialteukie oppa itu adalah account twitter lain milik Leeteuk, leader yang ku taksir itu. Ahh, mana mungkin. Aku selalu menepis pikiran gila itu. Kalau memang dia Leeteuk, kenapa dia selalu membalas mentionsku dan followersnya pun sedikit. So, It’s impossible.

Aku mendengar lagi suara riuh itu. Tapi, entah dimana. Namun, aku yakin. Pasti disanalah pintu keluarnya. Maklum saja. Sudah sepuluh tahun aku tidak ke Korea sejak halmoniku meninggal.

Aku melihat segerombolan orang berjalan mengarah pada satu pintu. Spontan aku menuju ke arah dimana orang-orang itu berjalan. Aku berjalan sekita tiga puluh meter dibelakang mereka. Pemuda tampan, putih, tinggi menggunakan kacamata. Sepertinya aku pernah bertemu mereka. Dimana, ya?

Seperti harapan baru, aku akhirnya melihat pintu keluarnya. Kurang lebih dua ratus meter dari tempatku berdiri sekarang. Tiba-tiba, “DONGHAE~ KYAA!!” aku mendengar teriakan itu. Bukan hanya itu, “HEECHUL~ UWAAAA!!!!”

Aku menyipitkan mataku. “Astaga!” aku terkejut, sangat terkejut. Aku ingin berbalik, tapi tidak mungkin. Aku serasa berada di tengah pusaran air yang siap menenggelamkanku. Aku terhuyung sambil menyeret kuat koperku agar tidak terlepas dan tetap menempel ditanganku. Karena terlalu bersemangat melihat pintu keluar, aku tidak sadar telah melewati beberapa orang tampan yang aku lihat dari belakang tadi.

Ya! Ya!” tiba-tiba seseorang mendorongku. Aku berpaling. Astaga! Tampan sekali.

“Kau mau mati terinjak. Ayo cepat jalan!” perintahnya menggunakan bahasa Korea banmal. Terkadang aku tidak mengerti bahasa banmal Korea. Aku berpikir sejenak. Apa yang ia katakan? Aku mengerti bahasa Korea. Tapi, yang formal. Karena aku menggunakannya ketika berbicara dengan ayahku dan rekan bisnisnya yang sebagian besar berasal dari Korea. Terkadang aku tidak mengerti bahasa Korea yang banmal atau yang informal.

“Ahh, pabo!” umpatnya padaku.

Mwo!! Pabo?!” aku menyipitkan mataku sambil melirik kesal pada orang itu.  Ia sepertinya tak mendengarku barusan. Tidak kenal sudah berani mengumpat orang. Awas saja kalau ketemu lagi nanti. Laki-laki itu tetap mendorong setengah menyeretku hingga ia naik ke busnya. Sedangkan aku pergi ke arah berlawanan untuk bebas dari kumpulan manusia tadi.

“Super Junior~ kyaa~ Leeteuk oppa~” aku mendengar dengan jelas teriakan itu setelah aku terlepas dari pusaran manusia dan pria tampan yang tidak sopan tadi.

Kepalaku berputar, memori otakku berkembang, tiba-tiba muncul Jea, memperlihatkan majalahnya. “Astaga!” aku memukul kepalaku lalu berbalik. Sebuah bus baru saja pergi. Aku mengumpat diriku sendiri. “Hana bodoh! Kenapa kau tak mengenali super star itu” umpatku dalam hati. Ya, aku baru saja bertemu super star Asia, Super Junior, dan aku tidak menyadari hal itu.

Langkahku terhenti di udara ketika laki-laki tidak sopan itu muncul di pikiranku bergantian dengan gambar yang ada pada majalah yang Jea perlihatkan padaku.

Aduh! Kenapa aku tidak sadar tadi. Aku menghentak-hentakkan kakiku ke lantai, sambil menatap ke arah jalanan yang telah dilalui mobil bus yang diteriaki banyak umat yang sudah tak terlihat lagi, bahkan asap knalpotnya. Plukk! Ada sesuatu yang jatuh dari tas ranselku. Sebuah strap handphone beruang serba guna karena bisa dijadikan gantungan untuk tas. Milik siapa ini? pikirku. Aku teringat. Tadi dia kan mendorongku di tengah sesaknya fans mereka. Mungkin saja ini tersangkut di ranselku. Pastinya milik Leeteuk, gumamku. Aku pun menyimpannya dalam ranselku agar tidak hilang. Toh, aku akan bekerja di SM. Pasti nanti akan bertemu dengan dia.

Leeteuk’s POV

Aishi! Yeoja satu ini. Kenapa ada dibarisan kami?” dengusku kesal.

Ya! Ya!” aku mendorongnya. Dia melihatku diam saja. Tidak mengerti apa situasi seperti ini. Apa dia ELF yang menyamar sebagai turis. Tapi, dia berwajah Korea.

“Kau mau mati terinjak. Ayo cepat jalan!” perintahku cepat. Kenapa dia diam saja. Apa bisu? Atau tidak mengerti bahasa Korea? Atau terpukau karena ketampananku? aku terkekeh dalam hati.

“Ahh, pabo!” umpatku yang melihat dia tidak reflek bergerak maju dengan cepat. Walau aku tidak melihat, aku merasakan dia melirikku tajam setelah mendengar ucapanku barusan. Ternyata dia mengerti bahasa Korea. Aku masih tetap mendorong dan menyeretnya agar aku bisa sampai di bus dan perempuan ini tidak jadi mati terinjak.

Akhirnya sampai juga didalam bus. Ribuan ELF melambai pada kami yang terduduk dalam bus. Aku mencari perempuan yang dari tadi aku dorong. Soalnya, didekat bus tadi dia berbelok menyelamatkan diri sendiri. Dasar! Tidak tahu berterima kasih.

Aku membuang perhatian ke sekeliling bandara. Memperhatikan ELF yang meneriakkan namaku dan nama grup kami. Sesekali aku melambai pada mereka menambah histeris. Aku membalikkan badanku ingin memperhatikan ELF yang berada dibelakang bus kami. Tiba-tiba, aku menangkap sosok kecil agak jauh dari bus kami yang akan berjalan. Ia menghentak-hentakkan kakinya. Aku tertawa sendiri.

Waeyo, hyung?” Ryeowook menghampiriku. ”Kau tersenyum sendiri seperti orang gila” timpal Eunhyuk.

“Kalian tidak lihat tadi hyung mendorong perempuan waktu kita keluar bandara” ujar Kyuhyun sambil mengubek-ubek tasnya.

“Seorang perempuan? Mendorong? Ahh, kau pacaran dengan stylist kita, hyung?” Heechul ikut-ikutan menggoda Leeteuk.

“Siapa juga yang pacaran. Aku juga tidak mengenalnya” jawab Leeteuk masih memikirkan gadis yang baru saja ia temui.

“Hey, kalian liat PSP-ku?” tanya Kyuhyun tiba-tiba. Yang lainnya menoleh.

“PSP-mu aku yang pegang. Tadi kau ketiduran sambil memegang PSP-mu itu. Daripada hilang, lebih baik aku simpan” ujar Leeteuk mengambil ransel yang ia letakkan di bagasi atas bus.

Ketika akan membuka tasnya, “Hey, kalian ada yang lihat strap beruang ranselku?” tanyanya tiba-tiba. Leeteuk membolak-balikkan tasnya. Memeriksa disekitar tempat duduknya.

“Coba kau periksa bagasi atas tadi. Mungki terselip disana” saran Siwon.

Leeteuk bangun dari duduknya, menuju bagasi tempat ia meletakkan tasnya semula. “Tidak ada” ujarnya pasrah. Eunhyuk bangkit dari tempat duduknya, memeriksa ulang bagasi atas bus.

“Mungkin jatuh waktu kita desak-desakan tadi, hyung. Sudahlah” ucap Eunhyuk.

“Kau tau kan barang itu berharga bagiku” ujar Leeteuk sedikit kasar. Eunhyuk diam saja.

“Hey, hey! Jangan bertengkar. Sudahlah hyung. Nanti aku berikan kau mini maskot perusahaan ayahku” lerai Siwon. Leeteuk hanya diam, menatap kosong ke arah jalanan.

***

“Ini. Kau harus makan banyak. Besok kau harus ke kantormu itu untuk perkenalan diri, kan? Nanti mereka tidak akan menerimamu jika kau terlihat kurus tak berdaya” ujar bibi Park diikuti tawa suami dan anak tunggalnya yang lebih muda dariku, Rara.

“Dia malah tidak akan diterima yeobo, kalau kau membuatnya gemuk malam ini. Stylist kan harus gesit. Jadi, harus ramping” timpal paman Park.

Aku hanya ber-hehehe saja mendengar ucapan mereka. Sudah lama sekali rasanya aku tidak tinggal di sini sejak aku pindah. Emangnya aku masih ingat masa kecilku saat di Korea.

“Semoga kau betah disini, ya Ha Seok eonni” ucap Rara eonni. Aku hanya tersenyum mendengar hal itu. Dia memanggil nama Koreaku dan aku belum terbiasa akan hal itu.

“Biar aku saja yang mencuci piring, ahjumma. Ahjumma dan ahjussi istirahat saja sambil nonton tv” aku berusaha mendahului bibi Park yang akan membawa piring ke belakang setelah kami semua selesai makan.

“Ahh, tidak usah. Kau tamu di rumah ini. Jadi, kau adalah raja. Sana, duluan ke ruang tv bersama Rara dan ahjussi” tolak bibi Park.

“Tamu apanya yang akan tinggal selama tiga bulan. Aku saja yang mengerjakannya, ya. Biar aku terbiasa nanti di apartmentku yang baru” pintaku pada bibi Park.

“Baiklah kalau begitu” bibi Park akhirnya mengalah. Aku membawa hati-hati semua piring dari atas meja menuju dapur untuk dicuci semuanya. Aku menghidupkan keran air. Untunglah posisi tempat cuci piringnya sama seperti dirumahku, sama-sama disebelah rak piring. Jadi, aku tidak kewalahan. Aku memakai sarung tangan dan siap mencuci semua piring yang sudah ku angkut.

***

Aku mengambil laptopku yang ikut serta. Menyambungkan dengan internet. Malam ini koneksi internet disini cukup susah. Padahal aku sudah membeli flash internet buatan Korea tadi siang ditemani Rara. Mungkin laptopku yang belum terbiasa. Sembari menunggu loading untuk masuk ke twitter, aku menghidupkan mp3 playerku. Sengaja menggunakan earphone agar tidak menggangu sekitar. Baru sehari aku disini serasa seperti sudah setahun. Mungkin, karena aku berdarah Korea, jadi aku tidak mengalami homesick. Aku sudah melepas rindu pada eommaku barusan via telpon. Sepertinya dia tenang saja aku sudah disini.

Mp3-ku memutar dengan otomatis lagu Super Junior, Happiness. Aku teringat kejadian kemaren waktu terjebak bersama mereka. Kenapa aku bodoh sekali, tidak sadar bahwa aku berada di kerumunan orang-orang tampan. Pabo. Umpatku beberapa kali. Aku membuka laci meja dikamarku, tempat aku menyimpan strap beruang milik Leeteuk yang tersangkut di ranselku. Bagaimana aku mengembalikan ini padamu nanti. Ahh, tersambung. Laptopku berhasil tersambung dengan internet. Aku langsung masuk ke account twitterku.

@specialteukie oppa, I’m here ^^ I had met you at airport. Do you remember? aku selalu mengganggap dia adalah real Leeteuk. Bahkan ketika mereka ke Paris aku mengirimkan Bagaimana konsermu di sana? dan dia membalas seperti dia adalah Leeteuk yang sebenarnya, Kami baru saja tampil. Sekarang giliran SHINee, tulisnya kala itu.

@hana_choi Oh, welcome to Korea ^^ Ah, I remember you. So, that girl is you?

@specialteukie ahh, I’m so happy cause you still remember me ^^ See ya at office tomorrow. I’ll go to SM tomorrow to provide the latest styles for you

@hana_choi see ya~

 

Leeteuk’s POV

Ada apa ini? Apa yang terjadi?

Leeteuk baru saja mematikan ponselnya.

“Apa dia hana_choi yang selama ini kukenal? Tidak mungkin” Leeteuk mencoba menepis pikirannya sebelum ia dipanggil untuk on-air di SUKIRA bersama Yesung.

***

“Jadi ini kantor SM” ucapku setelah sampai didepannya. Aku memperhatikan sekeliling. Sangat ramai. Apa mereka fans? gumamku. Aku merapikan kerah bajuku. Saat ini musim panas. Walau sejuk, panas yang aku rasakan sangat ekstrem. Berbeda dengan panas di Indonesia.

“Fighting!” aku bergumam sendiri sambil mengepalkan tangan lalu melangkah pasti masuk ke dalam kantor.

“Maaf, anda siapa? Fans tidak bisa masuk” cegat seorang yang seperti satpam atau bodyguard.

Aku memperlihatkan name-tag yang telah kusiapkan sejak dari Indonesia. Teman eommaku sudah mengirimnya saat aku masih di Indonesia.

“Maafkan aku” ujar pria itu setelah melihat id card yang aku pegang. Aku melangkah dengan perasaan sedikit kesal. Aku kan tidak membawa banner nama artis.

“Nona. Harap gunakan id cardmu selama didalam gedung agar tidak diusir” ujar pria itu dari tempatnya.

Aku berbalik, “Kamsahamnida” ucapku cukup kencang seraya membungkukkan tubuh ciri khas Korea. Laki-laki itu hanya tersenyum.

Aku naik ke lantai dua. Kemaren, bibi Oh, teman eommaku itu mengirim pesan dan menyuruhku langsung ke lantai dua, ruangan ketiga sebelah kanan dari tangga yang sedang aku lalui. Aku menghitung ruangan dari tempatku berdiri sekarang. Pintunya sedikit terbuka. Ada seorang laki-laki yang keluar. Dia menghampiriku.

Choi Ha Seok isseumnikka?” tanya laki-laki.

Ne” jawabku mengganggukkan kepala.

“Ayo ikut aku. Kita ada schedule jam 11. Nanti kau atur style para member, ya” perintahnya langsung tanpa mengenalkan dirinya.

Joesonghamnida, dangsini, nuguseyo??” tanyaku penasaran ketika laki-laki itu hendak berbalik. Laki-laki itu membelalakkan matanya tanda terkejut lalu bersikap biasa.

“Nanti kau akan tau siapa aku. Lekas ke dalam ruangan. Kau harus menyiapkan para member sebelum mereka keluar dari gedung ini. Di sana nanti kau juga yang harus mempersiapkan semua. Arrachi?” perintahnya lagi, lalu berbalik dan masuk ke dalam ruangan yang sama.

“Dia siapa? Menyuruhku seenaknya saja” omelku sembari berjalan ke ruangan itu. “Come on, Ha Seok. Fighting! It’s your first today. You must make them proud of you” aku menenangkan hatiku yang sedikit kesal. Aku tidak terbiasa disuruh-suruh seperti itu soalnya. Apalagi sama orang yang belum ku kenal sama sekali.

Aku menghela nafas dan melangkah masuk ke dalam ruangan itu. “Annyeonghaseyo~ Ha Seok imnida. Nan dangsin seutailliseuteu geosimnida” aku langsung membungkukkan badan sembilan puluh derajat di depan pintu. Semua yang ada di ruangan itu memperhatikan ku serempak.

Aku berdiri dan ingin melangkah. Namun langkahku terhenti ketika melihat orang itu.

Neo!?” ucap kami bersamaan.

TO BE CONTINUED . . .

DON’T TAKE OUT!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s