What If … [part 3]

Author :  @dbling826

Judul : What If …

Kategori : Continued

Cast :

– Choi Ha Seok (readers)

– Leeteuk

– Super Junior Members

– Choi Ha Seok Family

part 1 – part 2 – part 3 – part 4 – part 5 – part 6 – part 7 – part 8

***

Ya!! Kau ini tidak becus bekerja? Apa kau tidak training sebelum diterima di sini?!” emosi Leeteuk meledak. Ia sangat marah mengetahui aku tidak menemui tas kertas yang ia titipkan padaku. Aku hanya menunduk. Ingin menangis. Memang ini kesalahanku. Tapi, dibentak seperti ini aku tidak siap. Aku kira pekerjaan ini cukup mudah untuk ku lalui. Bahkan tanpa training atau semacamnya.

Jeongmal mianhamnida” hanya itu yang meluncur dari bibirku. Sumpah! Aku tidak tahu ke mana tas itu pergi. Apa memang dicuri oleh seseorang? Tapi, kami para stylist yang mengobrol tidak melihat tindakan aneh dari karyawan lain atau orang yang berlalu lalang di koridor gedung ini ataupun yang keluar masuk ruangan kami.

“Sudahlah hyung. Emang apa saja isi tasmu itu?” Ryeowook menghampiri kami. Lebih tepatnya seperti mencegah orang yang ingin berkelahi. Kalau bukan seorang perempuan, mungkin Leeteuk sudah menghajarku dengan cara laki-laki.

“Isinya memang tidak seberapa. Cuma 2 buah jam tanganku untuk show berikutnya dan earphone yang biasa aku gunakan” jelas Leeteuk dengan emosi yang masih menggebu-gebu. Kalau di dunia dongeng, sudah tumbuh tanduk dikepalanya dan telinganya dikelilingi asap. Like a devil.

“Kau sendiri mengatakan isinya tak seberapa. Kok Ha Seok kau marahi sebegitunya?” tanya Ryeowook ringan.

Leeteuk memalingkan wajahnya menatap Ryeowook tajam. Suasana di sekitar kami terasa tegang. Tapi, orang-orang berlalu lalang begitu saja. Hanya member Super Junior dari dalam ruang make-up dan stylist lain menonton kami. Aku ingin menangis. Sekencang-kencangnya.

“Memang isinya tak seberapa. Tapi aku ingin tahu. Apa dia bisa dipercaya sebagai stylist kita atau tidak. Kau bisa lihat, kan?! Hari pertama saja sudah ceroboh seperti ini. Bagaimana nanti? Bisa-bisa nama kita hancur olehnya” kata-kata Leeteuk benar-benar menghujam jantungku tembus ke hati yang paling dalam. Belum pernah ada seseorang yang berkata demikian, apalagi didepanku seperti saat ini.

Aku mendongakkan wajahku yang mulai dijatuhi air mata. Aku berusaha menahannya agar tidak jatuh membasahi pipiku dan bisa membuatku lebih malu lagi. Nangis dimuka umum.

“Aku sedang menjalani masa trainingku sebagai seorang stylist kalian” ucapku tercekat. “Aku memang ceroboh hari ini. Aku memang salah. Tapi, aku tak berniat menghilangkan tas mu itu. Kalau aku bisa sombong, aku akan membelikan isi tas mu itu dengan yang baru. Bahkan lebih mahal dari yang kau punya. Tapi, pernyataanmu barusan meyakinkan aku. Orang asing tetaplah orang asing. Aku sama sekali tidak mengenalmu. Aku pikir, aku berada di jalan yang benar karena telah mengagumimu sebagai seorang leader” lanjutku masih tercekat. Leeteuk tercengang mendengar pernyataanku barusan.

Aku ingin berlari sebelum air mataku benar-benar jatuh. “Satu hal lagi” tambahku. “Aku tidak seceroboh yang kau bayangkan. Kalau bukan karena kau menabrakku tadi, tas itu takkan lepas dari tanganku. Aku akan menemukannya. Segera. Kalau tidak, aku akan mengundurkan diri dari training ini” aku berlari dari tempatku berdiri setelah menyelesaikan kalimatku barusan. Terdengar Ryeowook memanggil namaku, tapi aku tidak menggubrisnya. Aku hanya ingin berlari, lari dan berlari dari hadapan pabo saram seperti Leeteuk yang tidak punya hati.

Leeteuk’s POV

Ya!! Kau ini tidak becus bekerja? Apa kau tidak training sebelum diterima di sini?!” emosiku keluar. Aku tidak tau, kenapa aku tak bisa menahan emosiku saat ini. Perempuan ini hanya menunduk. Dia terus-terus meminta maaf padaku. Aku tidak menggubrisnya.

“Sudahlah hyung. Emang apa saja isi tasmu itu?” Ryeowook menghampiri kami.

“Ryeowook ini kenapa? Kenapa selalu mecampuri urusanku?” aku sewot dalam hati.

“Memang isinya tak seberapa. Tapi aku ingin tahu. Apa dia bisa dipercaya sebagai stylist kita atau tidak. Kau bisa lihat, kan?! Hari pertama saja sudah ceroboh seperti ini. Bagaimana nanti? Bisa-bisa nama kita hancur olehnya” ucapku kasar. Mungkin terlalu kasar.

Perempuan di depanku ini diam saja. Sangat jelas. Ia menahan tangisnya. Ryeowook pun demikian. Mungkin ia juga kaget kenapa aku bisa sekasar ini.

“Aku sedang menjalani masa trainingku sebagai seorang stylist kalian” ucapnya tercekat di sela tangisnya yang tertahan. “Aku memang ceroboh hari ini. Aku memang salah. Tapi, aku tak berniat menghilangkan tas mu itu. Kalau aku bisa sombong, aku akan membelikan isi tas mu itu dengan yang baru. Bahkan lebih mahal dari yang kau punya. Tapi, pernyataanmu barusan meyakinkan aku. Orang asing tetaplah orang asing. Aku sama sekali tidak mengenalmu. Aku pikir, aku berada di jalan yang benar karena telah mengagumimu sebagai seorang leader” lanjutnya. Aku kaget. Ternyata dia mengagumiku.

Dia berbalik, ingin berlari dari hadapanku. “Aku tidak seceroboh yang kau bayangkan. Kalau bukan karena kau menabrakku tadi, tas itu takkan lepas dari tanganku. Aku akan menemukannya. Segera. Kalau tidak, aku akan mengundurkan diri dari training ini” ujarnya sebelum benar-benar menghilang dari hadapanku.

“Ha Seok-a ~” teriak Ryeowook berusaha menahannya. Ia tak menggubris teriakan Ryeowook. Aku hanya terdiam. Benar. Pasti tas itu terjatuh karena tadi aku tidak sengaja  menabraknya. Aduhh! Kenapa aku bisa sekasar ini?

***

Aku berlari tak tentu arah. Karena aku juga tidak tahu harus berleri ke mana. Yang pastinya, ke suatu tempat dimana orang tidak bisa melihatku menangis dan tidak mendengar teriakan ku saat menangis.

“Hah! Kenapa dia sekasar itu? Aku kan tidak sengaja. Lagian dia juga menabrakku tadi. Apa dia tidak ingat?” aku menahan tangisku agar tidak didengar orang lain sambil terduduk tersandar di dinding. Tapi tetap saja. Air mata mengalir dipipiku. Aku mengusapnya sampai kering, lalu bangkit dari dudukku.

“Aku harus menemukan tas itu. Pasti dia jatuh di sekitar ruangan tadi. Biar aku bisa membuktikan pada leader itu aku bisa bekerja dengan baik. Jangan bisanya hanya meremehkan aku” ujarku sambil mengepalkan tangan.

“Tapi, kalau tidak menemukannya, aku harus mengundurkan diri” aku tersandar lagi, mengingat ucapan terakhirku saat berhadapan dengan leader kesukaanku itu.

“Yang penting aku mencarinya dulu. Siapa tahu memang ada di sekitar ruangan tadi” aku bersemangat lagi. Ada sedikit senyum dibibirku.

Aku pun duduk kembali untuk memulihkan emosiku. Aku mengambil ponsel di saku jaket. 3 sms dari Hyerin dengan nada yang sama muncul di ponselku, kau dimana?’ dan 5 missed call dari Hyerin juga. Apa dia sangat mencemaskanku?

Aku baik-baik saja. Nanti aku pulang sendiri. Tasku biarkan saja tinggal diruangan tadi’ Aku membalas sms Hyerin.

Oppa, nanti malam aku tidak bisa makan-makan dengan kalian. Aku ada urusan mendadak. Kamsahamnida ~’aku mengirim pesan singkat pada Kibum oppa, manejer Super Junior. Setelah memastikan pesan itu terkirim, aku me-non-aktifkan ponselku. Aku tidak mau di ganggu siapa pun hari ini sampai aku menemukan tas kertas Leeteuk sialan itu. Aku memutuskan duduk diam di ruangan itu sampai mereka pulang dari gedung ini.

Leeteuk’s POV

Aishi! Kemana gadis itu?” aku pusing.

“Tidak diangkat” ujar Hyerin menyerah sambil menggelengkan kepalanya padaku. Aku hanya duduk. Ryeowook pun begitu. Tidak banyak bicara.

“Ahh, dia membalasnya” teriak Hyerin tiba-tiba mengagetkanku yang termenung tidak jelas.

Aku baik-baik saja. Nanti aku pulang sendiri. Tasku biarkan saja tinggal diruangan tadi’ baca Hyerin lantang. “Itu balasannya, oppa” ujar Hyerin.

“Aku menoleh sebentar pada Hyerin, lalu menunduk. Apa aku sekasar itu padanya?

“Kau juga sih, hyung. Kau bicara apa tadi padanya sampai dia lari dari hadapanmu? Kau memarahinya?” tanya Eunhyuk tiba-tiba. Aku diam saja. Aku tak mau menanggapi pertanyaan itu. Emosiku masih labil. Bisa-bisa Eunhyuk menjadi sasaran emosiku selanjutnya.

“Kalian bisa pulang. Terima kasih untuk kerja kerasnya hari ini” tiba-tiba seorang noona scriptwriter masuk ke ruangan kami.

Ne ~ Cheonmaneyo” balas Yesung. “Ayo kita pulang. Aku cukup lelah hari ini” ujar Yesung setelah noona itu keluar dari ruangan kami.

“Kibum hyung mana?” tanya Yesung lagi.

“Ahh, dia tadi ke kantor duluan. Ada urusan kalau tidak salah” ujar salah satu stylist kami.

“Ahh, masa kami ditinggal begitu saja? Lalu kami pulang pakai apa?” tanya Yesung seperti anak kecil.

Ya! Pasti masih ada mobil di bawah yang mau mengangkut kita. Kau ini bodoh sekali” ujar Eunhyuk kesal mendengar Yesung yang terus-terusan bertanya.

“Apa kau monyet? Iri saja padaku” balas Yesung setengah mencibir.

Neo jinjja . . .” Eunhyuk ingin memukul kepala Yesung, tapi Yesung sudah berlari duluan keluar ruangan sambil tetap mencibir Eunhyuk.

Ya ya ya! Lihat saja kau di dorm nanti” Eunhyuk berlari mengejar Yesung. Stylist lain tersenyum melihatnya.

Aku berdiri menghampiri Hyerin. “Kalau dia menghubungimu, tolong hubungi aku” ucapku pendek, lalu pergi keluar ruangan bersama Kyuhyun, dan Ryeowook yang masih diam.

***

Aku membuka mataku perlahan. Mengumpulkan seluruh kesadaran. Aku tersadar.

“Astaga!” aku terkaget saat melihat jam tanganku yang menunjukkkan pukul lima sore. “Sudah berapa lama aku tertidur di sini?” aku terus-terusan berbicara sendiri. Lalu teringat lagi masalah tas Leeteuk.

“Ah, iya! Aku harus mencari tas itu sekarang. Bisa-bisa nanti aku tidak menemukannya” aku bangkit dari dudukku, merapikan pakaianku lalu keluar dari ruangan tempat aku melarikan diri sehingga jatuh tertidur.

Aku mencoba mengingat ruangan tunggu kami tadi. Agak susah soalnya. Mungkin karyawan SBS sudah melepas nama Super Junior di pintu ruang tunggu mereka. Aku berjalan pelan sambil mengingat-ingat.

“Aha! Pasti ini” aku membuka pintu sebuah ruangan. Tidak dikunci. Aku mengintip dari balik pintu. Siapa tau masih ada orangnya. Kosong. Mereka semua sudah pulang.

Aku pun masuk ke ruangan itu. Tas ku masih ada di tempat yang sama. Berarti Hyerin mendengarkan perintahku dengan baik.

Aku mulai beraksi. Aku memulai misiku dari ruangan ini. Siapa tahu kan barang itu memang masih di sini, dan tadi aku tidak fokus mencarinya karena aku tergesa-gesa.

Satu jam lebih aku berjinjit, menjongkok dan memeriksa tiap sudut ruangan secara detail, tetap sama hasilnya sama. Aku tidak menemukannya. Aku hampir putus asa. Tapi, aku tetap berusaha menemukannya. Entah sudah berapa kali aku membuka laci meja rias para artis ini.

“Siapa disana?” tiba-tiba suara perempuan muncul dari balik pintu. Aku kaget dan langsung berbalik.

“Apa yang kau lakukan disini, agasshi?” tanya ahjumma itu ramah. Apa dia karyawan disini.

“Ahh, ada barangku yang ketinggalan. Sepertinya terjatuh di ruangan ini” jelasku agak gugup.

“Oh, ruangan ini mungkin sudah dirapikan oleh cleaning service. Kalau tidak menemukannya, coba tanya pada orang yang jaga di ruang cleaning service di lantai dasar, paling belakang” ujar ahjumma itu ramah.

“Ah, neKamsahamnida~” jawabku setengah menunduk. Aku tersenyum tipis saat mendengar ucapan ahjumma itu.

Ia membalas senyumku dan berlalu dari hadapanku. Setelah ahjumma itu pergi, aku mengambil tas dan bergegas keluar ruangan menuju ruang cleaning service.

Langkahku terhenti saat aku sampai di koridor. “Siapa tahu masih terletak di tempat aku jatuh tadi” pikirku dalam hati. Aku bergegas kembali ke koridor tempat aku bertabrakan dengan Leeteuk tadi.

Satu jam lebih aku berjalan jongkok, mengamati tiap sudut koridor lurus itu. Ada beberapa lemari besi di tiap pintu ruangan. Tapi, lemari itu terkunci. Entah apa isinya. Mungkin sesuatu yang berharga. Aku juga menggeser lemari biar aku bisa melihat belakangnya. Siapa tahu tas itu terletak di belakang lemari ini. Segala sesuatu yang tak mungkin bisa menjadi mungkin, kan? Namun, usahaku sia-sia saja. Sama seperti hasil sebelumnya. Nihil! Aku tidak menemukan apapun. Yang ada aku merasakan sakit di kaki ku karena berjalan jongkok dari ujung koridor ke koridor lain.

“Mungkin benar kata ahjumma itu. Mungkin ada di ruangan cleaning service. Mungkin ada seseorang cleaning service yang memungutnya tadi” aku mencoba menerka-nerka.

Aku melirik jam tanganku. Astaga! Sudah jam sembilan. Sudah berapa lama aku menjongkok di sini, ya?

Tanpa pikir panjang, aku bergegas turun ke lantai dasar. Sudah gelap. Hanya beberapa lampu dan lampu utama di lobby gedung yang masih menyala. Pasti ada beberapa kru yang dapat dinas malam. Aku bergegas ke bagian paling belakang dari gedung ini. Seram juga malam-malam sendirian di ruangan sebesar ini. Aku bertemu beberapa orang yang mungkin dari ruang cleaning serviceTernyata masih ramai. Mereka tersenyum tiap kali berpapasan denganku. Akhirnya aku tiba-tiba di sebuah ruangan yang bertuliskanCLEANING SERVICE di depan pintunya.

“Permisi” aku mengetuk pintu itu, lalu mambukanya perlahan.

“Ada yang bisa saya bantu” seorang laki-laki berdiri.

“Maaf, apa kalian menemukan tas kertas coklat keabu-abuan di depan ruang tunggu Super Junior hari ini?” tanyaku langsung.

“Di lantai dua?” tanyanya lagi.

“Iya” ucapku senang. Oppa ini memberi tanda bahwa tas itu memang ada padanya. Aku tersenyum cerah.

“Maaf, kami tidak menemukan apapun” ucapnya langsung mengubah senyumku.

“Apa di koridornya kalian juga tidak melihat tas kertas atau semacamnya yang tergeletak?” tanyaku lagi. Berharap tas itu memang ada ditangan mereka.

“Sepertinya tidak ada, nona. Kalau ada, pasti petugas sebelumnya memberi tahu padaku atau yang lainnya” jelas laki-laki itu.

“Oh, begitu. Kalau kalian menemukannya, harap hubungi aku, ya” aku mengeluarkan kartu nama yang berisi nomor ponselku. “Maaf mengganggu” aku pun melangkah gontai keluar ruangan.

Eotteokhae? Bagaimana ini?” aku terduduk di tangga luar gedung SBS. Sudah jam setengah sebelas, dan aku belum menemukan tas itu. Aku ingin menangis lagi. Karirku untuk menjadi stylist handal harus berakhir sampai di sini?

“Arrghh! Kenapa gara-gara tas itu masalahnya serumit ini?” aku mengacak-acak rambutku. Aku tidak bisa berteriak sesuka hatiku karena gedung ini masih cukup ramai. Kelihatannya saja dari dalam sepi.

Tuhan, tolong aku. Apa yang harus aku katakan pada eommaku nanti?

Leetuk’s POV

Annyeonghaseyo Super Junior Leeteuk imnida. Kalian sedang mendengar radio favorit kalian. SUKIRA. Super Junior Kiss the Radio” aku membuka siaran malam ini. Bersama Eunhyuk, suasana menjadi hangat meski hatiku masih galau memikirkan Ha Seok. Apa dia sudah di rumah?

Ne. Jangan beranjak dari tempat duduk kalian, karena aku, DJ Eunhyuk akan menemani kalian sampai siaran ini habis” ucap Eunhyuk.

“Tetap disaluran kami, 89.1, Kiss The Radio FM” tambah Leeteuk lalu memutar beberapa lagu.

Hyung, malam ini Kibum hyung akan mentraktir kita, ya?” tanya Eunhyuk saat lagu tengah diputar.

“Mmm” gumamku sembari menenguk air mineral botol yang memang disediakan untuk kami.

“Tumben sekali dia mau mentraktir kita?”

“Mana aku tahu. Bukannya bagus kalau dia mau mentraktir kita?”

“Hmm, iya sih. Ehh, si Ha Seok itu dari Indonesia, ya? Aku dengar dari Ryeowook tadi” Eunhyuk mengubah topik pembicaraannya.

“Begitulah” jawabku pendek.

“Kau ini kenapa? Tidak bersemangat sekali?”

“Aku capek. Jadwal kita padat sekali hari ini”

“Padat? Kita Cuma ada tiga jadwal hari ini. SBS, latihan di SM, dan siaran. Masa kau secapek itu??”

“Entahlah. Aku tidak semangat hari ini” jawabku malas.

“Kalau begitu kita bersenang-senang malam ini. Mumpung ada yang mau traktir” Eunhyuk mengedip-ngedipkan matanya.

“Kau ini. Kalau gratisan pasti bahagia. Sesudah lagu ini, kau bicara duluan, ya” suruh Leeteuk. Eunhyuk hanya mengangguk menuruti perintah hyungnya.

Dua jam siaran terasa begitu cepat malam ini. Mungkin karena lebih banyak Eunhyuk yang ngoceh.

“Ini lagu pungkasan kita. Terima kasih untuk kalian yang telah menemani kami. Kiss untuk orang yang ada di samping anda.Annyeong~” Eunhyuk menutup siaran radio malam ini.

“Aku tunggu kalian dibawah, ya” tiba-tiba Kibum hyung masuk, lalu keluar lagi.

“Ayo, hyung. Itu orang yang mentraktir sudah menjemput” seru Eunhyuk antusias.

Aku bangkit malas-malasan dari kursi siaran. Melihat Eunhyuk yang langsung memakai jaket dan topi, aku tersenyum tipis. Anak ini memang suka kalau ditarktir.

Kaja” ajaknya. Aku mengangguk pelan, dan menyandang tas ranselku keluar studio SUKIRA.

Aku menunduk memberi salam pada kru radio yang kutemui. Eunhyuk ber-high five ria dengan kru lainnya. Kami memang sudah cukup akrab dengan para kru disini.

“Itu yang lain” tunjuk Eunhyuk ketika melihat Donghae, Heechul dan Shindong yang berdiri di luar gedung tempat kami siaran. “Ya!” terika Eunhyuk sambil melambai-lambaikan tangannya pada ketiga orang itu. Mereka membalasnya dari kejauhan. Eunhyuk pun berlari menghampiri mereka. Sedangkan aku masih berjalan santai.

“Mana yang lain?” tanyaku ketika sampai dikerumunan mereka.

“Sungmin, Kyuhyun dan Yesung di dalam mobil. Kalau Siwon dan Ryeowook tidak ikut malam ini. Ada jadwal lain katanya” jawab Heechul.

“Oh” ujarku pendek. Lalu kami bersama-sama berjalan ke mobil yang biasa kami pakai.

Hyung, mana Ha Seok? Bukannya kau mentraktir kami untuk merayakan kedatangannya?” tanya Donghae ketika mesin mobil dihidupkan.

“Entahlah. Tadi dia mengirim pesan padaku ada urusan mendadak. Aku balas, tidak terkirim-kirim. Mungkin urusan keluarga” jawab Kibum hyung fokus pada jalanan.

Aku tersentak. Apa mungkin dia masih mencari tas ku yang hilang?

“Hey, ini milikmu, kan?” tiba-tiba Kibum hyung melempar sesuatu padaku. Aku yang sedang tidak fokus jelas tidak menangkap barang yang dilemparnya.

Ige mwoya?” tanyaku masih belum fokus pada barang yang dilemparnya, apalagi suasana dalam mobil cukup gelap karena lampu tidak dinyalakan.

“Bukannya itu tas mu yang kau titipkan tadi pada Ha Seok?” tanya Kibum hyung membuatku lebih kaget lagi. Buru-buru aku menyalakan lampu mobil untuk memastikan apa tas itu yang aku titipkan atau tidak.

Benar! Itu tas kertasku. Aku memeriksa isinya. Dua jam tangan dan earphoneku masih ada di dalamnya. Apa yang sudah aku lakukan pada Ha Seok?

“Tadi aku melihatnya tergeletak di koridor ruang tunggu kalian. Karena aku tau itu milikmu, makanya aku letakkan dimobil. Biar nanti bisa langsung ku . . .”

“Stop disini! Aku harus turun!” potongku tanpa peduli situasi.

Ya! Kau ini gila? Kita ini berada di jalur cepat. Bukan gang rumahmu” cegat Yesung setengah berteriak.

“Kau ini kenapa, hyung? Makin malam makin aneh” sambung Eunhyuk.

Hyung, tolong berhentikan mobilnya didepan” pintaku pada sopir kami. Hyung yang mengendarai mobil kami pun menepi di depan beberapa toko.

“Kau mau kemana?” tanya Kibum hyung cepat sebelum aku membuka pintu mobil.

“Jangan khawatir. Aku akan segera kembali” aku membanting pintu mobil, lalu berlari meninggalkan mereka yang masih heran dengan tingkahku

***

Aku berjalan terus, tak tentu arah. Aku baru berhenti ketika melihat halte bus. Aku pun duduk di kursi tunggu halte bus itu.

“Apa yang harus aku lakukan?” aku mengacak-acak rambutku asal. FrustasiTas itu tidak aku temukan. Ini tandanya aku harus mengundurkan diri.

“Aku butuh seseorang yang bisa menolongku. Tapi siapa?” aku bertanya pada diriku sendiri. Tiba-tiba aku teringat pada Leeteuk oppadunia mayaku. Aku pun menghidupkan ponselku, mencoba masuk ke account twitterku. Siapa tau dia online malam ini.

Tringg, triing, Trring, ponselku berbunyi terus-menerus. Ada sebelas pesan masuk. Aku tidak menggubrisnya. Yang harus aku lakukan adalah menemukan oppa itu.

Setelah berhasil log in, aku memeriksa timelining ku, melihat tanda-tanda apakah oppa itu sedang online. Tidak kutemukan satupuntweets dari accountnya.

“Arrgh! Apa yang harus aku lakukan? Aku belum mau pulang. Daripada aku membuat bingung paman dan bibiku, lebih baik aku menenangkan diri terlebih dahulu” aku mencoba menenangkan hatiku yang galau. Masalah kecil memang terkadang bisa menjadi masalah rumit.

@specialteukie oppa ~ aku sudah di Seoul sekarang. Aku sedang terlibat masalah rumit. Apa bisa kita bertemu? Aku butuh seseorang untuk memecahkan masalahku ini. Maaf jika mengajakmu bertemu hanya untuk menyelesaikan masalahku. Aku mengirim tweet menggunakan hangul pada oppa itu. Baru kali ini aku mengirim tweetmenggunakan hangul padanya.

Satu detik, dua menit, enam menit, sepuluh menit, lima belas menit, tweetku belum dibalasnya.

“Ah, mungkin dia sedang sibuk. Jam segini biasanya kan orang sepulang kerja ngumpul dengan teman-temannya” pikirku.

“Tapi, aku belum mau pulang ke rumah. Apa yang harus ku sampaikan pada bibi Park? Baru masuk kerja sudah dipecat?” aku tak bisa membayangkan situasi rumah saat ini. Jika aku pulang, mereka pasti akan menyambut dan menanyakan bagaimana hari pertamaku bekerja.

“Mana aku tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan masalah. Arggh! Serba salah setiap hal yang aku kerjakan hari ini” aku mengacak-acak rambutku lagi. Kesal, bingung, sedih campur jadi satu. Jika aku pandai menyembunyikan masalah, sudah sejak tadi aku tidur di rumah.

Aku mentweet oppa itu lagi.

@specialteukie oppa, aku akan menunggumu di Mokko Coffe, toko roti di distrik Gangnam, dekat rumahku. Aku tunggu kau disana satu jam. Sekali lagi, maaf mengganggumu.

Aku melirik jam tanganku. “Ahh, sudah jam dua belas kurang sepuluh menit. Selarut ini masih ramai. Aku harus segera pergi ke toko itu. Semoga ia membaca mentionku” aku beranjak dari halte bus menuju toko roti tempat kami janjian bertemu.

Leeteuk’s POV

Aku berlari ke lantai dua SBS, berharap Ha Seok masih di sana. Beberapa orang menyapaku, aku hanya menundukkan badan kecil membalasnya.

Akhirnya aku sampai di pintu ruang tunggu kami tadi. Arrghh! Pintunya terkunci. Aku menggedornya. Siapa tahu Ha Seok sengaja menguncinya agar tidak diganggu orang.

Ya! Ha Seok-a~ Buka pintunya” teriakku. Tak ada respon dari dalam

Ya! Ini aku, Leeteuk! Cepat buka pintunya atau ku dobrak pintu ini dan kau harus membayar ganti ruginya” bentakku keras. Tetap, tak ada respon.

“Ohh, itu mau mu. Baiklah, aku akan mendobraknya. Hanadul …”

“Apa yang kau lakukan disini?” seorang pria menghampiriku. Langkahku terhenti.

“Ahh, hyung. Aku mencari temanku. Dia pasti ada di dalam, dan tak mau membukakan pintu untukku” jelasku.

“Tak ada orang di dalam. Semua ruang tunggu telah di cek dan di kunci” jelas hyung itu ringan. Aku terkejut. Ke mana Ha Seok?

“Kau yakin?”

“Tentu saja. Sudah jam berapa ini. Mana mungkin ada orang berkeliaran lagi di sekitar gedung ini. Kalau sudah lewat jam dua belas, kami hanya memutar acara yang telah direkam siang tadi” jawab hyung itu.

Aku berpikir keras. Di mana Ha SeokApa dia sudah pulangBagaimana kalau dia belum pulangDia belum mengenal Seoul dengan baik pastinya. Aku merapatkan gigiku, uratku menegang.

Hyung, apa tadi ada perempuan yang berkeliaran di sini, dua atau tiga jam yang lalu” tanyaku tiba-tiba.

“Ohh, gadis stylist itu? Sepertinya dia sudah pulang sejak tadi”

“Ahh, kamsahamnida. Aku pulang juga” aku menunduk pamit pada hyung itu, salah satu broadcaster di SBS. Syukurlah!

Aku berjalan santai setelah mendengar jawaban hyung tadi. Tenang. Itu perasaan hatiku kini. Aku melihat jam tanganku. Sudah jam satu lewat empat puluh menit.

“Langsung pulang sajalah. Mereka pasti sudah selesai makan” gumamku sembari menyetop taksi untuk pulang ke dorm.

Waktu ke rumah paling cepat empat puluh lima jam. Mengisi waktu luangku di taksi, iseng aku membuka account twitterku satu lagi. Siapa tahu ada mentions aneh dari para fans. Cukup asyik meladeni mereka menggunakan account lain.

Mataku membulat setelah membaca sebuah tweet dari salah satu fansku.

Ahjussi, ini daerah mana?” tanyaku pada ahjussi sopir taksi.

“Ini baru keluar dari distrik Gangnam. Kita bisa tiba di rumah anda sekitar lima menit lagi” jelas ahjussi itu. Aku melirik jam tanganku.AstagaSudah jam satu kurang sepuluh. Apa dia masih di sana? Aku harus turun. Harus!

Ahjussi, aku berhenti di sini saja” perintahku langsung.

“Ahh, tidak jadi ke rumah anda?” tanya ahjussi itu membuang waktu.

“Apa Mokko Coffe dekat sini?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya barusan.

“Sekitar lima atu tujuh blok di belakang kita?” ia akhirnya menepikan taksinya.

“Ini ongkosnya. Kamsahamnida~ Jaga kesehatanmu” ucapku sambil melambai pada ahjussi itu. Ahjussi itu hanya melongo menerima uang yang mungkin bukan tarif taksinya.

Aigo! Kenapa kau membuatku susah seperti ini, sih?” ucapku dalam hati sambil berlari. Belum ada tanda-tanda banner Mokko Coffe yang ku temui. Aku terus berlari. Sesekali aku melirik jam tangan. Jam satu lewat lima. Mengapa waktu berlalu begitu cepatAku harus sampai di sana. Segera!

 ***

Aku melirik jam tanganku. Sudah jam satu lewat lima. Aku memeriksa ponselku yang aku gunakan untuk membuka account twitterku. Siapa tahu oppa itu membalas tweetku dan segera berlari ke sini.

Aku meneguk habis minuman keduaku. “Hah! Sudahlah” desahku. “Mungkin dia tidak bisa datang hari ini” aku bangkit dan keluar meninggalkan tempat dudukku.

Aku mengusap-usap kedua tanganku dan merapatkan jaketku biar hangat. Udara di sini cukup ekstrem ternyata. Walau sedang musim panas, tetap saja udara malamnya dingin. Tidak baik untuk kesehatan.

Tap! Aku merasa ada yang mengikutiku. Aku menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Aku melangkah lagi.

Aku mendongakkan kepalaku. Di mana iniIni bukan kompleks perumahan bibi Park. Aku salah jalan!

Aku berbalik dan mengambil ponselku, mencoba menghubungi Rara, siapa tahu dia bisa menjemputku di Mokko Coffe. Sebuah tangan meraih ponselku cepat. Aku kaget. Ada dua pria asing di hadapanku. Siapa merekaMau apa mereka?

“Hai, nona manis. Kami sudah disini, tak perlu menelpon kami lagi” ucap pria satunya diiringi tawa temannya yang jelek.

“Kembalikan ponselku” ujarku lantang.

“Jalan-jalan dulu, yuk. Nanti baru kami kembalikan ponselmu ini” ujar pria satunya yang bertampang dan bersuara jelek tadi.

“Aku tidak mau. Hey! Hey! Lepaskan tanganku” aku memberontak saat mereka berdua memegang erat tanganku.

TO BE CONTINUED . . .

Apa yang akan terjadi dengan Ha Seok? Tunggu What If . . . part. 4 Keep Comment 🙂

DON’T TAKE OUT!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s