What If … [part 6]

Author :  @dbling826

Judul : What If …

Kategori : Continued

Cast :

– Choi Ha Seok (readers)

– Leeteuk

– Super Junior Members

– Choi Ha Seok Family

part 1 – part 2 – part 3 – part 4 – part 5 – part 6 – part 7 – part 8

***

Aku mendesah nafas beberapa kali. Duduk di meja kerja yang ada di ruangan itu. Aku membuka layar ponsel, lalu menutupnya. Membukanya kembali, lalu lagi – lagi menutupnya. Aku sendiri tidak mengerti apa yang sedang aku lakukan.

“Ha Seok-a, waeyo?” tiba – tiba Sora unnie menyikut lenganku. Ponsel ditanganku hampir terjatuh jika aku tidak sigap menangkapnya.

“Umm, anieyo, unnie. Aku masih bingung apa yang harus aku lakukan nanti. Aku takut tidak bisa memuaskan kalian semua. Aku takut mengecewakan kalian karena pekerjaanku nanti” jelasku panjang. Sora unnie menatapku. Mencoba mencari kata yang tepat.

“Tenang saja. Kan ada aku. Kau cukup mendengarkan perintahku. Kerjakan semua dengan percaya diri. Yakinlah, kau pasti bisa” Sora unnie memberikan suntikan semangat padaku. “Mungkin aku nantinya jadi pemarah saat di lokasi pemotretan atau lokasi syuting MV. Harap maklum, ya. Ini salah satu event besar kita setelah satu tahun mereka comeback tahun lalu” ujar Sora unnie sambil tertawa. Aku tersenyum mendengar ucapannya. “Sepertinya kau sedang ada masalah. Bisakah kau ceritakan padaku?” tanyanya pelan. Aku menoleh padanya.

“Apa kelihatannya begitu?” tanyaku aneh. Gadis yang lima tahun lebih tua dariku ini kini duduk dihadapanku merasa tidak enak. Aku ikut-ikutan tidak enak.

“Mungkin. Kau terlihat seperti kecapekan atau sebagainya” terkanya. Aku tersenyum.

“Tidak. Bukan apa-apa. Tak ada sama sekali sangkut pautnya dengan pekerjaanku” jawabku sambil tersenyum yang di paksakan. Mungkin wajahku sudah capek dengan senyuman itu hari ini.

“Mungkin kau belum terbiasa disini. Kalau musim panas, suhunya bisa sampai 37º, lho. Kalau musim dingin bisa kurang dari 0º” ceritanya tanpa ku minta. Aku lagi-lagi tersenyum. Senyum yang juga dipaksakan.

“Mungkin saja” ujarku pendek.

“Sora-. Kau disuruh ke lantai tiga” tiba-tiba seseorang masuk. Ternyata Minsuk oppa. Aku belmu terlalu mengenalnya. Dia salah satu staff SM.

“Umm, aku tinggal dulu ya. Kalau kau tidak enak badan, lebih baik kau pulang. Daripada hari H nanti kau sakit. Aku juga yang bakal kerepotan” Sora unnie bangkit dari duduknya dan menepuk bahuku pelan. Aku mengangguk.

-ruang latihan SM Ent.-

Leeteuk’s POV

bwara Mr. Simple, Simple geudaeneun geudaeneun geudaero meotjyeo ~ lirik itu sudah berkali-kali menggema di ruangan yang aku injak. Tapi, aku masih tidak fokus pada gerakanku.

“Leeteuk-ssi. Kau terlalu maju. Mundur dua langkah. Kau sejajar dengan Eunhyuk” aku mundur perlahan. Member lain hanya melirikku sebentar, lalu fokus lagi pada gerakan.

“Leeteuk-ssi. Perhatikan barisanmu. Kau di belakang Shindong” lagi-lagi Jinho hyung, koreografer kami mengingatkanku yang selalu salah posisi. Aku sudah tidak tau ini tegurannya yang keberapa. Aku sangat tidak fokus hari ini.

“Kenapa latihan hari ini buruk sekali? Apa kalian mau comeback ini di undur karena kalian belum siap?” ujar Jinho hyung kecewa. Aku menunduk. Mengutuk diriku yang melakukan kesalahan terbanyak. Member lain-lain ikut-ikutan melakukan kesalahan saat melihatku tidak fokus. Yesung terpeleset lah, Heechul lupa gerakan lah, dan sebagainya. Aku merasa tidak lagi cocok sebagai leader.

“Kemarin persiapan kalian sudah 95%. Itu sudah sangat bagus. Apa yang sedang kalian pikirkan sehingga tidak fokus. Khususnya Leeteuk. Apa kau ada masalah?” aku tersentak ketika namaku disebut. Aku mendongakkan kepala, sedangkan member lain menoleh ke arahku setelah namaku disebut.

“Aku bisa bicara pada CEO kalau kalian belum siap untuk comeback” ucapan Jinho hyung barusan, membuat member lain riuh, sama-sama menolak usulan itu.

Mianhae, hyung. Aku hanya tidak fokus hari ini” akhirnya aku buka suara. Jinho hyung mengernyitkan dahinya.

“Apa kau punya masalah?” tanyanya. Aku diam sesaat. Memikirkan jawaban yang tepat. Tidak mungkin aku menceritakan masalah yang tidak terlalu pelik yang sedang aku alami. Ini bukan sesi curhat atau semacamnya.

“Tidak. Bukan apa-apa. Tak ada sama sekali sangkut pautnya dengan pekerjaan ini”

“Masalah pribadi? Aku harap kau tidak membawanya ke sini” ucap hyung itu akhirnya. Aku mengangguk pelan.

“Yapp. Kita istirahat lima belas menit. Lalu latihan lagi. Kalau kalian sudah bisa mengumpulkan konsentrasi kalian hari ini, kita bisa pulang untuk istirahat” ujar Jinho hyung sambil bertepuk tangan memberi aba-aba. Kami bangkit dari duduk kami. Ada yang mengambil minum, mengambil handuk kecil, dan semacamnya. Aku memilih untuk duduk di pojok ruangan. Bersemedi. Mencoba mengumpulkan konsentrasiku agar bisa fokus lagi. Comeback kami sudah di depan mata. Aku tidak boleh lemah karena hal ini. Jika aku lemah, yang lain akan lemah juga. Sebagai leader, aku harus memperlihatkan yang terbaik. Jangan loyo hanya karena masalah yang jika dipikirkan matang-matang sangat sepele. Aku mengedarkan pandanganku pada member lain yang sibuk. Tiba-tiba aku melihat Ryeowook yang sedang ngobrol dan tertawa bersama Kyuhyun, Sungmin dan Yesung. Aku teringat. Dia tadikan ngobrol dengan Ha Seok. Apa yang mereka bicarakan?

Aku mendekati Ryeowook ragu. Di sana ada Kyuhyun dan Yesung juga. Aku tidak enak jika menanyakan hal itu. Tapi, mereka kan dongsaengku. Dengan mantap aku berjalan ke arah mereka.

“Hey!” sapaku santai pada mereka. Mereka melihatku kaget karena tiba-tiba berdiri dan muncul di sana. Kyuhyun menepuk-nepuk daerah kosong disebelahnya, menyuruhku duduk. Aku pun duduk di tempat yang ia maksud.

“Kau aneh hari ini, hyung. Ada apa? Apa kami boleh tau?” tanya Sungmin langsung setelah aku duduk. Aku diam, lalu melirik Ryeowook.

“Sepertinya hyung kita ini sedang jatuh cinta” ujar Kyuhyun tiba-tiba mengagetkan aku dan yang lainnya. Aku mendelik tajam. Ia hanya memasang gayanya yang lugu jika sedang menganggu member lain.

“Ceritakan saja pada mereka, hyung. Kita kan sudah seperti saudara” Ryeowook akhirnya buka suara. Aku menghela nafas panjang. Ada benarnya kata Ryeowook barusan.

“Ehh, ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul tanpa ada aku?” Heechul tiba-tiba muncul di sebelah Yesung. Melihat kami duduk membentuk lingkaran, Eunhyuk dan Donghae yang hanya mengenakan kaus putih tanpa lengan langsung ikut berkerumun begitu masuk ke ruang latihan kami.

“Kenapa kalian mau meninggalkan aku begitu saja?” tiba-tiba Shindong dan Siwon muncul dengan rambut yang basah. Kelihatannya mereka dari kamar mandi untuk membasahi rambut. Hari ini cuaca memang cukup panas. Tapi, entah kenapa aku merasakan ketenangan saat kami berkumpul seperti ini.

“Apa masalah itu, hyung?” tanya Donghae yang melihatku diam saja. Aku mengangguk pelan.

“Masalah? Ya! Kenapa kau tak memberi tahuku?” tiba-tiba Eunhyuk memukul pundak Donghae. Ia meringis kesakitan sambil mengusap-usap pundaknya yang dipukul Eunhyuk. Saat akan membalas, dengan sigap Eunhyuk berlindung di balik badan Shindong yang paling besar di antara mereka. Donghae mengurungkan niatnya. Bisa-bisa tangannya yang sakit jika ia salah sasaran dan malah memukul pundak Shindong yang tebal.

“Baiklah. Apa boleh aku ceritakan, hyung?” tanya Donghae meminta ijin padaku. Aku menganggukkan kepalaku tanda setuju. Aku sendiri bingung harus mulai menceritkan masalah dari mana. Karena, aku tidak tahu dari mana masalah ini dimulai, dan kapan akan berakhir.

“Oh, begitu. Berarti mereka kembar?” tukas Shindong setelah Donghae selesai cerita. Aku tersenyum mendengar ucapannya.

Ya, pabo! Bukan kembar. Mereka berteman, kan hyung” sambung Eunhyuk. Aku tidak tahu. Mereka sedang bercanda atau memang tidak mengerti cerita Donghae barusan. Kami tertawa melihat kelakuan bodoh mereka Shindong dan Eunhyuk.

“Jadi, Ha Seok dan Hana itu orang yang sama? Waow! Amazing!” ujar Yesung sambil menjetikkan jarinya. Kami melihat aneh ke arah Yesung. Dia hanya nyengir tidak jelas.

“Dia marah padamu karena kau tidak memberitahunya bahwa kau sudah tau dia adalah Hana itu?” sambung Siwon sambil memegang dagunya.

“Sudah ku bilang, kan. Hyung kita yang tampan ini sedang jatuh cinta” ucapan Kyuhyun membuat kami terdiam bersamaan. Begitupun Shindong dan Eunhyuk yang saling menjitak kepala mereka masing-masing bergantian.

“Apa bisa disebut seperti itu?” tanyaku ragu. Tapi memang. Entah kenapa aku merasa takut, Ha Seok akan menjauhiku.

“Tentu saja hyung.  Kalau kau tidak suka padanya, mana mungkin kau bisa memikirkan masalah ini dalam-dalam” Sungmin buka suara diikuti anggukan member lain.

Aku hanyut dalam pikiranku, lalu menoleh pada Ryeowook.

“Tidak seperti yang kau pikirkan, hyung. Aku hanya ingin berteman dengannya” ujar Ryeowook seolah mengerti arti tatapanku barusan. Member lain kini memperhatikan Ryeowook.

“Ohh. Aku mengerti sekarang. Apa kau cemburu pada Wookie karena ia selalu ngobrol dengan Ha Seok?” Heechul menggoyang-goyangkan jari telunjuknya tanda mengerti. Aku menoleh padanya.

“Aku rasa begitu. Lihat hyung kita ini. Stress. Suram. Tidak bercahaya. Tidak memiliki semangat hidup” Kyuhyun lagi-lagi menggodaku. “Sepertinya, setengah dari kehidupannya sekarang ada di tangan Ha Seok” tambahnya.

Aku menjitak kepalanya. Gemas bercampur kesal. Di tengah situasi serius seperti ini, sempat-sempatnya dia menggodaku. Benar-benar maknae tidak sopan.

“Nyatakan saja cintamu, hyung” celetuk Sungmin diikuti suara member lain, tanda setuju.

Aku melihat mereka satu persatu. Mengernyitkan dahi. “Apa semudah itu?”

“Tentu saja. Kau punya kami” gaya Kyuhyun sombong sambil memegang bahuku, seolah-olah masalah itu telah selesai.

“Kau ini. Bisa-bisa masalahku tambah panjang” aku membuang tangan Kyuhyun dari bahuku. Member lain tertawa.

“Apa yang kalian lakukan. Ayo latihan lagi” perintah Jinho hyung membubarkan “rapat” kami.

***

Ahjumma, mungkin hari ini aku pulang telat, atau mungkin aku nginap di kantor. Hari ini ada pemotrean untuk cover album dan foto teaser comeback Super Junior” aku mengambil sepatu ketsku di rak sepatu keluarga Park. Rumah ini sudah seperti rumahku sendiri.

“Kalau begitu bawa ini. Siapa tahu kau kekurangan makan siang nanti. Semoga tahan sampai malam” bibi Park menyerahkan bungkusan padaku. Aku memeriksa isi bungkusan itu.

“Itu telur dadar gulung. Makan yang banyak, ya” ujarnya lagi membatalkan niatku membuka bungkusan itu. Aku memeluk bibi Park. Tak terasa sudah seminggu aku disini. Ditemani berbagai masalah dan juga pekerjaan besar yang sudah menantiku.

Kamsahamnida, ahjumma” aku memeluk perempuan yang seumuran ibu ku itu.

“Panggil eomonim saja. Kau seperti orang lain kalau memanggilku seperti itu” aku tertawa kecil.

Ah…., ung eomonim. Aku berangkat dulu” aku pamit. Ia mengantarkan aku sampai pintu keluar. Setelah menunduk memberi hormat, aku melangkah meninggalkan rumah. Sudah jam setengah tujuh. Aku harus berada di kantor SM jam tujuh. Itu perjanjian kami kemaren.

***

“Bagaimana semuanya? Sudah siap? Kalu begitu segera ke mobil. Kita harus ke studio tempat pemotretan mereka. Jangan lupa satu hal pun” perintah Sora unnie, ketua divisi ku yang menangani Leeteuk dan Shindong. Hebatnya SM. Satu orang member mempunyai satu stylist. Aku masih belum percaya hal itu. Semoga nantinya aku menangani Shindong saja. Sepertinya dia sangat lucu kalau aku mendengar cerita dari staff SM yang lain. Kami meninggalkan kantor tepat jam delapan. Jam sembilan, sesuai janji pemotretan akan dimulai. Kedengarannya sepele. Tapi, kali ini harus perfect. Tidak ada yang cacat atau kurang apapun. Mereka harus menjadi comeback terdahsyat tahun ini. Begitu kata Lee Sooman, CEO  SM pada rapat sebelumnya. Tidak salah kalu banyak artikel yang menulis SM adalah salah satu manajemen yang paling hebat di Korea Selatan. Sepertinya aku mulai merasa bangga bisa menjadi salah satu staff di manajemen termasyur ini. Bisa mengadakan konser di dalam dan luar negeri dengan mudah. Artis yang berada di bawah naungannya terkenal di mana-mana termasuk di negara asalku, Indonesia. Mengingat Indonesia, aku teringat ibu, ayah, Jia dan semua kenanganku di sana. Apa kabar mereka hari ini? Apa mereka juga memikirkanku dan merindukanku?

“Ha Seok, kardus di atas meja sudah kau masukkan ke mobil, kan?” Sora unnie mengingatkanku sebelum mobil berangkat. Kami satu-satunya tim yang berangkat dari kantor SM. Karena, rata-rata staff lainnya sudah berada di sana. Aku melihat ke belakang mobil.

“Sudah. Semuanya sudah masuk ke mobil” jawabku mantap.

“Bagus! Kita bisa berangkat sekarang” ujarnya ceria. Minsuk oppa pun menginjak gas, perlahan mobil itu meninggalkan halaman kantor SM.

“Kau mau ini, Ha Seok?” tawar Minji, teman sesama stylistku yang juga menangani Leeteuk dan Shindong memberikan beberapa bungkus snack. Aku menggeleng.

Kamsahamnida. Aku masih kenyang” tolakku halus. Ia mengangguk lalu menikmati makanan kecilnya sendiri.

“Kau ini. Makan terus. Mana bisa gesit nanti” Minsuk oppa menggoda Minji yang dari tadi mengunyah tanpa henti. Aku dan Sora unnie hanya tertawa melihatnya.

Setelah setengah jam perjalanan, kami sampai di tempat pemotretan. Sudah banyak mobil terparkir di sana. Sepertinya semua sudah berkumpul.

“Ha Seok, Minji. Tolong bawa semuanya turun, ya. Aku melihat ke dalam dulu. Apa mereka sudah mulai atau belum” perintah Sora unnie  sebelum ia melesat masuk ke gedung tempat pemotretan itu. Aku dan Minji berjalan beriringan ke bagasi belakangan mobil yang kami tumpangi. Aku membawa dua kardus besar. Sedangkan Minji membawa satu kardus dan beberapa stel pakaian. Sepertinya ia kesusahan. Tapi, ia tidak memintaku untuk membantunya. Aku hanya mengiringnya dari belakang.

“Kalian langsung masuk saja. Letakkan itu di dekat stylist lain” tiba-tiba Sora unnie muncul di hadapan kami. Aku dan Minji mengangguk-angguk mengerti dan melangkah masuk. Sedangkan Sora unnie sudah menghilang entah kemana. Hari sibuk akan segera dimulai!

Ruangan pemotretan itu tidak terlalu besar. Ruangan itu terlihat sangat ramai hari ini. Di hadapanku sudah terletak beberapa perangkat untuk pemotretan. Ada dua buah lampu pencahayaan yang besar. Dan ada beberapa kain latar yang bisa diganti dengan mudah sesuai dengan tema pakaian masing-masing member.

“Aww! Shindong oppa. Kau terlihat tampan dengan dandanan seperti itu” Minji berhambur ke arah Shindong yang sudah siap dipotret. Ia sibuk memuji-muji Shindong yang menurutku agak nyetrik, malah terbilang aneh. Ia mengenakan baju biru tua dengan bulu angsa yang terletak di dadanya. Sepertinya Minji mengagumi Shindong. Lucu sekali melihat dia memuji-muji Shindong. Ehh, kalau dia mengurus Shindong, berarti aku harus mengurus . . .

Ya!” suara seseorang yang tidak asing lagi membuatku kaget. Aku berbalik. Benar. Aku harus mengurus pria satu ini.

“Ahh, ada yang harus ku lakukan?” tanyaku spontan. Ia tersenyum tipis melihatku kaget. Aku bisa melihat ia tersenyum karena dimple di pipinya tercetak dengan sempurna.

“Apa kau punya kipas? Aku kepanasan menggunakan jas ini. Tebal sekali” keluhnya sambil memegang jas orange yang ia kenakan. Aku memperhatikannya dari atas ke bawah. Aku menangkap sesuatu yang asing di balik jas yang ia kenakan itu.

“Apa itu?” aku mengibaskan jas yang ia kenakan. Terlihat tali berwarna-warni melilit di pinggangnya. Spontan aku tertawa. Model macam apa ini?

“Apa yang kau tertawakan? Apa ini lucu? Ini belum ada yang mencoba menggunakannya” ujar Leeteuk sinis. Aku terdiam. Lalu aku menyentuh rambut yang menutupi keningnya. Mencoba merapikannya.

“Kusut sedikit” jelasku pendek. “Kau mau kipas tadi, kan? Aku ambil dulu” aku berlari ke arah sebuah kardus yang ku bawa. Dan kembali dengan kipas yang cukup besar.

“Tolong pegang ini, ya. Kau tunggu di sana saja. Biar saat giliranku, aku tidak susah mencarimu” Leeteuk menyerahkan jas orange yang ia lepas. Lalu bergabung bersama member lain yang sedang ngobrol dengan fotografer mereka hari ini. Aku melihat punggung yang menjauh itu dan menatap jas yang ia berikan. Aku tidak mau mengurusnya. Tapi, kenapa aku menerima jasnya begitu saja? Aku berjalan ke pinggir area pemotretan, menunggu sambil memegang jasnya di sana sesuai perintah pemiliknya.

“Itu jas hyung, kan?” tiba-tiba Ryeowook berdiri di sebelahku. Aku menoleh. Lalu mengangguk.

“Kau jangan marah padanya lagi, ya. Kemaren waktu kami latihan. Pikirannya terbang kemana-mana” jelas Ryeowook. Aku tertegun. Sampai sebegitunya dia memikirkan masalah ini? Aku saja merasa tenang karena tiba bertemu dengannya beberapa hari ini.

Jinjja?” tanyaku tak percaya. Ryeowook mengangguk mantap. Aku menoleh pada Leeteuk yang mengobrol dengan staff lainnya, beberapa meter dari kami berdiri. Tiba-tiba ia menoleh dan melihat kami berdua, lalu berjalan ke arah kami. Aku jadi gagap karena takut dia sadar aku memperhatikannya.

“Aku pergi dulu, ya. Maafkan hyung kami, ya. Sebenarnya dia baik padamu” Ryeowook meninggalkan aku dan bergabung dengan Sungmin dan Kyuhyun.

“Apa yang kau bicarakan? Sepertinya serius sekali” tanya Leeteuk penasaran. Lalu mengambil jas orangenya dari tanganku.

“Leeteuk-ssi. Silakan ke sini” teriak fotografer meminta Leeteuk mengambil pose untuk fotonya. Karena mendengar panggilan itu, dengan sigap aku mengambil kembali jas ia pegang dan mengenakannya pada laki-laki itu. Aku berdiri di depannya, dan memperhatikan penampilannya dari ujung rambut ke ujung kaki. Aku mengacak-acak rambutnya, lalu meluruskannya lagi. Kurang rapi, aku mengambil sisir kecil yang sudah aku sematkan di saku belakang jins yang aku pakai hari ini.

“Sudah pas. Kau bisa berfoto sekarang” aku menepuk lengannya pelan. Juga bangga karena kerjaku. Leeteuk hanya bengong melihatku berlaku demikian padanya.

“Ha Seok, bisa tolong kami?” panggil Soo Hyun, yang sedang merapikan rambut Eunhyuk. Aku menoleh dan langsung pergi tanpa memerhatikan tatapan Leeteuk yang belum beranjak dari tempatnya sehingga sang fotografer harus memanggilnya dua kali.

Leeteuk’s POV

Itu dia baru datang. Aku menghampirinya yang membawa dua kardus besar. Terlihat Minji, yang heboh ketika melihat Shindong. Ia stylist sekaligus ELF yang mengagumi Shindong. Ia sangat senang bisa menjadi fans dan adik bagi Shindong mengingat Shindong sudah punya yeojachingu. Ketika mendengar bahwa Minji dan Ha Seok yang menjadi “babysister” untuk Shindong dan aku, aku memutuskan untuk melupakan masalah kami sesaat. Atau bahkan benar-benar melupakannya. Sudah pasti aku diurus oleh Ha Seok, mengingat Minji adalah fans Shindong.

Ya!” sapaku. Atau membuatnya terkejut. Ia berbalik kaget.

“Ahh, ada yang harus ku lakukan?” tanyanya spontan. Aku tersenyum tipis melihatnya kaget. Lucu juga.

“Apa kau punya kipas? Aku kepanasan menggunakan jas ini. Tebal sekali” keluhku. Bukannya langsung mengambil kipas, dia malah mengibas jas orange yang aku kenakan lalu tertawa.

“Apa yang kau tertawakan? Apa ini lucu? Ini belum ada yang mencoba menggunakannya” ujarku sinis. Dia terdiam. Bukannya minta maaf atau sejenisnya, dia malah menyentuh rambut yang menutupi keningku. Mencoba merapikannya.

Dugeun . . . dugeun . . . Hey! Ada apa ini? Kenapa jantungku berdegup tidak jelas saat ia menyentuh kepalaku?

“Kusut sedikit” jelasnya pendek. Jantungku normal kembali. Ternyata . . . Cuma kusut.

“Kau mau kipas tadi, kan? Aku ambil dulu” ia berlari ke arah sebuah kardus. Dan kembali dengan kipas yang cukup besar.

“Tolong pegang ini, ya. Kau tunggu di sana saja. Biar saat giliranku, aku tidak susah mencarimu” Aku menyerahkan jas orange yang ku lepas. Lalu bergabung bersama member lain dan membicarakan konsep foto kami hari ini bersama fotografer.

Aku mengedarkan pandanganku. Lalu menangkap sosok Ryeowook yang sedang berbicara pada Ha Seok. Apa yang mereka bicarakan? Aku rasa, aku harus tau.

Aku berjalan pelan ke arah mereka berdua. Belum sampai aku disana, Ryeowook melambaikan tangan meninggalkan Ha Seok.

“Apa yang kau bicarakan? Sepertinya serius sekali” tanyaku penasaran. Lalu mengambil jas orange ku dari tangannya.

“Leeteuk-ssi. Silakan ke sini” teriak fotografer memintaku mengambil pose untuk foto teaser kami. Mungkin, karena mendengar panggilan itu, nalurinya sebagai stylist berjalan. Dengan sigap ia mengambil kembali jas aku pegang dan mengenakannya padaku. Bukan hanya itu. Ia memperhatikan penampilanku dari ujung rambut ke ujung kaki. Lalu mengacak-acak rambutku, yang sebenarnya sudah rapi, lalu meluruskannya lagi. Merasa kurang rapi, ia mengambil sisir kecil yang entah sejak kapan sudah ada di saku belakang jins yang ia kenakan hari ini.

“Sudah pas. Kau bisa berfoto sekarang” serunya ceria. Aku bengong melihat perlakuannya padaku yang sepertinya terlalu cepat. Aku ingin, dia menyentuh kepalaku lagi. Walau itu hanya perlakuan seorang stylist terhadap artisnya.

“Ha Seok, bisa tolong kami?” panggil Soo Hyun, yang sedang merapikan rambut Eunhyuk. Ia menoleh dan langsung pergi tanpa memerhatikan tatapanku yang belum beranjak dari tempatku sehingga sang fotografer harus memanggilku dua kali.

***

“Oke! Kita break dua jam. Silahkan makan siang, setelah itu kita lanjut untuk foto cover album Super Junior. Tolong kerja samanya!!” teriak fotografer setelah selesai mengambil foto member terakhir, Heechul. Aku buru-buru menghampiri Leeteuk yang sedang duduk dengan Sungmin dan Kyuhyun. Menanyakan, apa ia perlu sesuatu.

“Apa kau mau sesuatu. Ada beberapa konsumsi hari ini. Apa kau mau jajangmyeon?” tawarku.

“Wahh. Enaknya jadi hyung yang punya stylist sepertimu yang menawarkan makanan. Bisakah kau mengambilkan aku Kimbap? Aku juga lapar. Tidak maukah kau menawariku juga?” Kyuhyun menggodaku dengan tatapan jahil. Aku diam saja. Benar kata Ryeowook. Aku harus menjaga jarak dengannya agar tidak digoda terus.

“Kau mau Kimbap. Baiklah. Akan aku ambilkan” aku berbalik. Namun panggilan Leeteuk menghentikan langkahku. Aku menoleh. Barangkali dia butuh sesuatu.

“Ambil apa saja. Yang penting aku makan” perintahnya membuat jantungku mencelos. Aku ini stylist, bukan pembantu. Apa ia tidak bisa membedakan hal itu.

“Kau ini hyung. Tidak sopan sekali. Ya sudah Ha Seok, kau bawa tiga Kimbap untuk kami. Kalau ada makanan kotak atau semacamnya, tolong bawa juga ya” Sungmin meluruskan perintah hyungnya barusan. Bagus Sungmin! Aku setuju padamu!

“Oke. Tunggu sebentar, ya” ujarku ceria. Kyuhyun hanya nyengir dan menganggukkan kepalanya.

Leeteuk’s POV

“Apa kau mau sesuatu. Ada beberapa konsumsi hari ini. Apa kau mau jajangmyeon?” tiba-tiba Ha Seok muncul dan menawarkan makan siang padaku.

“Wahh. Enaknya jadi hyung yang punya stylist sepertimu yang menawarkan makanan. Bisakah kau mengambilkan aku Kimbap? Aku juga lapar. Tidak maukah kau menawariku juga?” jawab Kyuhyun setengah iseng. Anak ini tidak tahu tempat ya?

“Kau mau Kimbap. Baiklah. Akan aku ambilkan” ia berbalik ingin mengambil apa yang Kyuhyun sebut.

Ya!” ia berhenti ketika aku memanggilnya. Ia berbalik dan menatapku. “Ambil apa saja. Yang penting aku makan” perintahku asal. Aku hanya ingin berbicara dengannya. Tapi, aku tidak tahu apa yang harus ku katakan.

“Kau ini hyung. Tidak sopan sekali. Ya sudah Ha Seok, kau bawa tiga Kimbap untuk kami. Kalau ada makanan kotak atau semacamnya, tolong bawa juga ya” Sungmin meluruskan perintahku barusan. Ia mengangguk-angguk kepalanya.

“Oke. Tunggu sebentar, ya” tak lama kemudian, ia kembali membawa beberapa kotak makanan, dan juga air.

Hyung, bantu dia” perintah Kyuhyun tanpa basa-basi.

“Apa harus?” tanyaku malas. Tapi, kasihan juga dia. Kesusahan membawa semuanya.

“Ya ampun. Usiamu memang lebih tua. Tapi, pikiranmu masih jongkok. Ayo bantu dia” ulangnya. Aku bangkit dari dudukku, mendekatinya yang kesusahan membawa konsumsi untukku, Kyuhyun dan Sungmin.

“Tidak usah, biar aku saja yang bawa” elaknya saat aku menawarkan bantuan. Melihatnya yang kesusahan dengan semua barang yang ia pegang, aku mengambil tiga botol mineral dengan tangan kananku dan tiga kotak dengan tangan kiriku setengah memaksa.

“Kau capek hari ini. Besok masih ada kegiatan lagi”

“Tapi, hanya bawa ini. Mana mungkin aku pingsan”

“Sudahlah” aku meninggalkannya yang masih ngotot ingin membawa barang-barang itu.

“Yee! Makanan kita sampai” teriak Kyuhyun dan Sungmin girang ketika aku sampai di tempat kami duduk tadi.

Jal meokgessseumnida” ujar Kyuhyun sebelum melahap jajangmyeon yang kubawa.

“Bagaimana? Enak?” tanya Ha Seok melihat Kyuhyun yang melahap duluan makanannya. Sementara Sungmin baru akan membuka bungkus plastik jajangmyeon itu.

“Kau tidak makan?” tanyaku melihatnya diam saja tidak menyentuh apapun.

“Ohh, aku nanti makan telur dadar buatan bibiku saja disana” ujarnya seraya menunjuk tas yang ia letakkan di atas meja dekat staff lain yang sedang menikmati makan siang mereka.

“Telur dadar? Itu makanan ringan. Kau harus makan berat saat makan siang. Makan ayam kotak ini. Kita mungkin selesainya malam” aku menyodorkan ayam kotak yang ada di depanku. Ia hanya menatap kotak yang sodorkan.

“Ahh, kalian romantis sekali. Sepertinya, nanti banyak ELF yang bakal stress” ucap Kyuhyun tetap melahap jajangmyeonnya.

“Eh ~” aku dan Ha Seok sama-sama menoleh pada Kyuhyun yang masih melanjutkan makannya.

“Kau ini. Makan saja. Tidak baik makan sambil bicara” aku memukul kepala Kyuhyun pelan. Sungmin hanya tersenyum. Ia tidak banyak bicara. Anak yang satu ini memang sangat sopan saat makan.

“Jangan terlalu dipikirkan. Dia memang sering asal bicara” jelasku pada Ha Seok. Ha Seok manggut-manggut mengerti.

“Lebih baik kita makan sebelum jam break habis”

***

“Oke! Hari ini selesai. Kamsahamnida” teriak fotografer setelah mengambil berbagai pose untuk cover album dari member Super Junior. Staff dan member Super Junior bertepuk tangan setelah mendengar kalimat itu. Secara bergantian mereka memberi hormat pada fotografer yang telah bekerja keras hari ini.

Uri syupeo juni-oeyo!! Kamsahamnida” teriak Leeteuk diikuti oleh member lain. Lalu berkali-kali mereka menunduk untuk mengucapkan terima kasih.

“Kegiatan hari ini dilanjutkan besok untuk syuting MV. Besok para staff akan menginap disini. Kita tidak punya banyak waktu. Dalam dua hari, MV sudah harus selesai” ujar PD yang menangani comeback Super Junior kali ini. Mereka berkerumun. Mendengar perintah PD itu. Aku dan Minji membereskan beberapa barang. Syuting MV besok di sini juga. Jadi, peralatan ini tetap disini agar mudah mencarinya.

“Ha Seok-a” seseorang memanggilku.

Kamsahamnida untuk hari ini” ujarnya setengah membungkuk padaku. Aku yang merasa tidak enak pun membalasnya.

Ne ~ cheonmaneyo” ucapku sambil tersenyum. Sepertinya masalah kami sudah berakhir. Benarkah? Bahkan aku lupa masalah itu karena aku terus bersamanya hari ini.

Hyung, ayo cepat. Mobil sudah menunggu kita” teriak Yesung sambil melambai-lambaikan tangannya.

“Ahh, aku harus pulang. Pakai ini. Malam ini sepertinya sangat dingin. Aku tidak mau kau sakit karena masuk angin. Besok pasti kita pasti lebih sibuk” Leeteuk menyerahkan jaket yang ia gunakan saat ke lokasi pemotrean hari ini. Aku menerimanya canggung.

“Aku duluan, ya. Annyeonghaseyo” ia berbalik dan berlari ke arah Yesung yang sudah menunggunya.

“Ciee ~ Ada apa antara kau dan leader itu?” aku tidak sadar. Sora unnie sudah berdiri di sebelahku.

“Ahh ~ Tidak seperti yang kau pikirkan, unnie” aku meletakkan jaket itu di meja, lalu menyusun isi meja itu agar rapi. Sora unnie mendekatiku.

“Pakai ini. Aku juga tidak mau kau sakit karena masuk angin” ujarnya dengan nada mengejek. Aku memukul lengannya.

“Aku tunggu kau di mobil, ya” ia perlahan meninggalkanku. Aku mengangguk. Setelah berpikir lama, aku memutuskan memakai jaket itu. Sepertinya, malam ini lumayan dingin. Aku merasa kehangatan mengalir dari jaket itu. Aku merasakan pelukan hangat Leeteuk dari jaket itu.

Aish!” aku membuang jauh-jauh pikiranku yang terakhir. Merasakan pelukan hangat? Astaga!! Apa yang terjadi pada diriku? Tidak mungkin aku menyukai leader itu. Aku tenggelam dalam pikiranku. Suka. Satu kata yang mudah dikatakan, namun sulit dijabarkan. Atau sebaliknya. Sulit dikatakan namun mudah dijabarkan. Apa aku suka Leeteuk?

TO BE CONTINUED . . .

DON’T TAKE OUT!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s