What If … [part 4]

Author :  @dbling826

Judul : What If …

Kategori : Continued

Cast :

– Choi Ha Seok (readers)

– Leeteuk

– Super Junior Members

– Choi Ha Seok Family

part 1 – part 2 – part 3 – part 4 – part 5 – part 6 – part 7 – part 8

***

 Leeteuk’s POV

“Ahh, itu tokonya” aku girang melihat banner Mokko Coffe dari kejauhan. Ehh, sepertinya mereka akan tutup. Aku mempercepat langkahku.

“Maaf tuan, kami akan tutup” ujar seorang wanita yang berpakaian seperti waitress padaku saat aku mendekati mereka.

“Aku tidak mau membeli. Apa konsumen terakhir kalian tadi gadis berwajah oriental?” tanyaku langsung.

Wanita itu berpikir. “Ahh, nona itu. Dia sudah menunggu temannya sejak satu jam yang lalu”

“Ke mana dia?”

“Sepertinya sudah pulang. Di dekat sini ada dua perumahan soalnya. Satu gerbangnya di sana” ujar waitress itu sambil menunjuk arah kanan. “Dan satu lagi di sebelah sana” lanjutnya menunjuk arah kiri.

“Dia tadi ke arah mana?” tanyaku tak sabar. Bahaya untuk perempuan berkeliaran sendirian jika sudah lewat jam dua belas malam.

“Ke sana” tunjuknya. Aku segera berlari ke arah yang ditunjuk waitress itu.

“Ahh, kamsahamnida” teriakku tanpa menoleh pada waitress itu.

Aku berlari hingga aku sampai di bawah palang sebuah nama perumahan. Dari kejauhan aku melihat dua sosok laki-laki dan . . . Astaga! Itu Ha Seok. Apa yang mau mereka lakukan?!

“Kembalikan ponselku” teriak Ha Seok lantang.

“Jalan-jalan dulu, yuk. Nanti baru kami kembalikan ponselmu ini” ujar pria satunya yang bertampang dan bersuara jelek.

“Aku tidak mau. Hey! Hey! Lepaskan tanganku” Ha Seok terlihat memberontak saat dua pria itu memegang erat tangannya. Aku tidak bisa tinggal diam.

“Hey! Kalian mau apa?!” aku menghampiri mereka.

“Siapa kau?” tanya pria itu melepaskan tangan Ha Seok dan menghampiriku. Ha Seok berlari ke belakang punggungku. Sangat jelas wajahnya ketakutan.

“Kalian yang siapa!” bentakku keras. Mereka tidak tahu siapa aku? Ciiih!

“Aku merasa pernah melihatmu di suatu tempat”

“Apa yang mau kau lakukan padanya?” ujarku tinggi tanpa memedulikan ucapannya barusan.

“Apa urusanmu?” nada pria yang satunya meninggi.

“Dia penting bagiku. Apa harus aku jelaskan?” jawabku ikut-ikutan tinggi. Ha Seok hanya tertunduk diam di belakangku. Mungkin tak berani melihat perlakuan yang akan ku terima dari pria sejenis preman ini.

“Kau ini. Cerewet sekali jadi laki-laki. Rasakan ini!” pria itu melayangkan kepalan tangannya padaku. Aku menangkisnya cepat. Ha Seok terjerit. Aku kaget, mengira dia yang menjadi sasaran pria-pria itu. Segera aku menoleh ke belakang. Di saat aku lengah karena menoleh, pria menarik bajuku dan melayangkan kepalan tangannya yang kedua.

Buaaghh! Tepat di di tulang dipipiku. Sangat sakit, perih. Aku hampir kehilangan kesadaranku. Ha Seok hanya terpekik melihatku yang tertinju oleh kawanan asing itu.

Buaaghh! Kali ini tangan mereka mendarat di perutku. Aku terhuyung ke belakang. Sakit. Aku tidak bisa menahannya. Mataku berkunang-kunang.

Bughh, baggh, buggh, aku medengar beberapa kali pukulan. Tapi, mengapa aku tidak merasa sakit?

“Pergi kalian dari sini. Atau aku akan memukul kalian dengan stik kayu ini sampai mati?!” teriak seorang perempuan lantang setengah terisak.

“Ampun nona. Maafkan kami” terdengar cicit pria itu sambil menahan sakit.

Bughh, baggh, buggh, lagi-lagi aku mendengar suara pukulan bertubi-tubi.

“Ampuni kami, nona” pinta pria itu. Yang satunya berusaha bangkit dari rasa sakitnya. “Ini ponselmu nona” setelah mengembalikan ponsel itu, mereka lari tunggang langgang tertatih-tatih.

***

“Pergi kalian dari sini. Atau aku akan memukul kalian dengan stik kayu ini sampai mati?!” aku berteriak keras di sela tangisku. Setelah minta ampun berkali-kali dan mengembalikan ponselku, dua pria asing itu pun lari tunggang langgang sambil menahan rasa perih dipinggangnya. Setelah memastikan mereka benar-benar pergi, aku membuang stik kayu itu dan menghampiri laki-laki yang telah menyelamatkannku.

Gwaenchanayo?” tanyaku memastikan kondisinya. Tadi ia mendapatkan dua pukulan. Apa dia akan baik-baik saja?

Ne. Gwaenchana” jawabnya seret. Aku khawatir. Eotteokhaeka?

“Kau baik-baik saja, kan? Mereka tidak mengusikmu, kan?” dia bangkit memeriksa kondisiku sambil memegang perutnya.

Ya! Oppa! Aku baik-baik saja. Sekarang justru kondisimu yang mengkhawatirkan. Kita ke rumah sakit saja, ya” aku bangkit berusaha memapahnya.

“Ah, gwaenchana. Aku baik-baik saja. Tidak perlu ke rumah sakit” elaknya mencoba bangkit. Lalu berjalan sempoyongan. Dan hampir terjatuh. Kalau saja aku tidak sigap menahannya, kepalanya sudah pasti mencium aspal.

Ya! Leeteuk-ssi! Kondisimu sangat tidak memungkinkan. Sudahlah. Kita ke rumah sakit saja, ya?” pintaku sekali lagi. Berharap dia mau di ajak ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaannya.

“Aku tidak mau ke rumah sakit. Sangat bahaya jika aku ke sana dengan kondisi seperti ini. Bisa-bisa besok keluar berita yang bukan-bukan mengenai diriku” ia tetap mengelak. Tetap berusaha berdiri sempurna. Namun lagi-lagi terhuyung dan mencoba tegak berpegang dengan tiang listrik.

“Laki-laki ini. Sudah mau ditolong, masih saja nada bicaranya kasar padaku” gumamku dalam hati. “Ya sudah. Kita ke rumahku saja” putusku akhirnya.

Leeteuk berusahan mendongakkan kepalanya. Tanpa menunggu persetujuannya, aku mencoba memapahnya.

“Ahh, kau ini berat sekali” ucapku menahan badannya. Leeteuk tersenyum tipis, bahkan tidak terlihat.

“Begini saja” ucapnya lemah. Melepaskan tanganku dipundaknya, lalu merangkul pundakku. “Biar aku yang bertumpu padamu”

Aku kaget saat dia merangkulku. Tentu saja kaget. Aku ini perempuan biasa. Mana dia tadi bilang aku penting baginya.

“Ehh, kan kau yang sakit. Kok malah kau yang memapahku?” aku mencoba mengelak permintaanya.

“Tidak usah. Aku sudah nyaman dengan posisi seperti ini. Kaja” ajaknya tanpa memedulikan ucapanku barusan.

“Kenapa tidak melangkah?” tanyanya yang melihat ku membatu.

“Ahh, kaja!” aku mengikuti langkahnya yang panjang.

Kami melangkah pelan. Sangat pelan. Aku tau, perutnya pasti sangat sakit. Tapi, dia saja yang berusaha sok tegar dan tidak mungkin aku mengatakan itu sekarang. Ceritanya kan dia menolongku tadi.

Kamsahamnida” ucapku pelan. Leeteuk menoleh. “Terima kasih sudah menolongku” sambungku lagi.

“Ahh, bukan apa-apa. Kau kan penting bagiku” Leeteuk mengucap kalimat itu sekali lagi.

Ne??” aku kaget. Apa maksudnya mengatakannya dua kali.

“Ahh, maksudku, begini . . . uhh” Leeteuk gagap. Aku ikut-ikutan canggung. “Kau kan stylistku. Tentu saja kau penting bagiku dan . . . yang lainnya juga” sambung Leeteuk masih gagap.

“Ahh, kau betul sekali” jawabku kecewa. Kecewa? Kenapa harus kecewa?

Aku memalingkan pandanganku ke rumah-rumah yang kami lalui. Rata-rata hanya lampu luarnya saja yang masih menyalah. Pemiliknya pasti sudah beranjak tidur. Aku mencoba melirik Leeteuk. Ups! Mata kami beradu. Ada apa ini? Kenapa aku canggung sekali?

“Ahh, itu . . .” obrolan kami bertabrakan. Kenapa situasinya seperti ini, sih?

“Kau yang duluan” ucapnya santai.

“Kita sudah sampai” jawabku pendek ketika tiba di gerbang rumah bibi dan pamanku.

“Oh, kita sudah sampai” ulangnya.

Aku mengangguk. “Kau berdiri di sini sebentar, ya. Biar aku yang memencet bel dan bicara pada bibiku lewat intercom

“Tidak apa-apa aku mengganggu mereka tengah malam?” tanyanya canggung.

“Ahh, kau kan sudah menolongku. Bibi dan paman ramah kok. Tenang saja. Kau bisa berdiri di sana sebentar, kan?” ulangku. Dia mengangguk. Aku pun memencet bel dan berdiri tepat di depan intercom.

Nuguseyo~” sahut seorang wanita dari dalam rumah. Itu bibiku. Ternyata belum tidur. Aku melihat jam tangan. Jam dua kurang lima belas menit. Kenapa dia belum tidur?

“Ha Seok, bi” jawabku pelan.

Sadar aku yang memencet bel, bibiku buru-buru keluar dan membuka pintu tanpa bertanya lagi.

Aigo~ Dari mana kau selarut ini? Ponselmu juga tidak aktif. Akhirnya aku menyuruh paman mencarimu ke kantor SM” ujarnya cemas sambil memelukku. Aku tersenyum merasa bersalah.

“Ahh, mianhaeyo ahjumma. Tadi aku tersasar. Aku belum ingat betul arah pulang” aku merangkulnya erat. Ahh, serasa memeluk ibuku.

Keu namja . . . nuguyeyo?” tanya bibiku saat melihat Leeteuk tersandar di dinding gerbang rumah.

“Ahh, annyenghaseyo. Leeteuk imnida” Leeteuk memperkenalkan dirinya sembari membungkukkan badannya menahan sakit di perutnya.

Omo! Kau kenapa?” bibiku kaget melihat lebam di pipi Leeteuk. Leeteuk memegang pipinya. Bingung harus mengatakan apa. Aku pun begitu. Apa yang harus ku jelaskan pada bibiku?

“Ahh, lebih baik ceritanya di dalam saja. Sambil mengobati luka mu itu. Ayo, masuk” bibi menggandeng tangan Leeteuk. Aku mengekornya dari belakang.

Leeteuk menoleh padaku. “Eotteokhae?” tanyanya dengan isyarat bibir. Aku tersenyum.

Keokjeonghajima” ujarku lalu memegang pundak belakangnya.

Leeteuk’s POV

Ternyata pukulan bertubi-tubi tadi adalah pukulan yang Ha Seok berikan pada dua pria asing itu.

Gwaenchanayo?” tanya Ha Seok setelah memastikan dua pria asing itu menghilang dari kami.

Ne. Gwaenchana” jawabku memegang perutku yang terasa sakit. Bukan saatnya mengkhawatirkan ku. Kondisinya lah yang harus dikhawatirkan. “Kau baik-baik saja, kan? Mereka tidak mengusikmu, kan?” aku mencoba bangkit untuk memeriksa kondisinya.

Ya! Oppa! Aku baik-baik saja. Sekarang justru kondisimu yang mengkhawatirkan. Kita ke rumah sakit saja, ya” ia berusaha memapahku. Ahh, aku dipanggil oppa.

“Ah, gwaenchana. Aku baik-baik saja. Tidak perlu ke rumah sakit” elakku mencoba bangkit, namun terjatuh lagi.

“Ya sudah. Kita ke rumahku saja” putusnya setelah kami berdebat panjang karena aku tidak mau ke rumah sakit. Rumah sakit adalah sarana umum. Bagaimana mungkin aku muncul di sana dengan kondisi babak belur seperti ini. Bisa-bisa nanti aku dianggap idola yang suka berkelahi dengan preman.

“Kau berat sekali” ucapnya susah sambil memapah tubuhku yang tinggi. Aku tersenyum tipis.

“Begini saja. Biar aku yang bertumpu padamu” Aku merangkul pundaknya. Ia mencoba mengelak permintaanku. Tapi, aku sudah nyaman dengan posisi seperti ini. Rasa sakit di perutku mulai kurang. Apa ini efek dari rangkulanku?

Kamsahamnida” ucapnya pelan. Aku menoleh. “Terima kasih sudah menolongku” lanjutnya.

“Ahh, bukan apa-apa. Kau kan penting bagiku” jawabku santai. Ehh, aku tersadar telah mengatakan kaliamt itu dua kali. Ha Seok bingung dengan maksud jawabanku.

“Ahh, maksudku, begini . . . uhh” aku gagap. Ha Seok ikut-ikutan canggung. “Kau kan stylistku. Tentu saja kau penting bagiku dan . . . yang lainnya juga” sambungku masih gagap.

“Ahh, kau betul sekali” jawabnya sambil tersenyum. Kenapa jawabannya biasa saja?

Aku membuang pandangan ke sekeliling perumahan yang kami lalui. Sangat sepi. Mungkin Cuma kami berdua yang masih bangun. Tak sengaja aku menoleh pada Ha Seok, Ha Seok pun begitu. Mata kami pun beradu.

“Ahh, itu . . .” obrolan kami bertabrakan. “Kau duluan” ucapku mempersilahkannya membuka obrolan.

“Kita sudah sampai” jawabnya pendek lalu melompat naik ke sebuah tangga gerbang rumah yang cukup luas. Aku kira dia mau ngobrol denganku.

“Kau berdiri di sini sebentar, ya. Biar aku yang memencet bel dan bicara pada bibiku lewat intercom” pintanya. Aku mengangguk sambil bertopang pada dinding gerbang itu.

Setelah Ha Seok memencet bel dan berbicara sebentar di intercom, seorang perempuan paruh baya membuka gerbang itu dan memeluk Ha Seok. Dia lah bibi Park. Dari nada bicara, sudah pasti dia sangat cemas.

Keu namja . . . nuguyeyo?” tanyanya ketika melihatku.

Aku memperkenalkan namaku. Ia heran melihat lebam di pipiku. Aku memberi isyarat pada Ha Seok, tapi kelihatannya Ha Seok juga bingung mau memberikan penjelasan seperi apa pada bibinya.

“Ahh, lebih baik ceritanya di dalam saja. Sambil mengobati luka mu itu. Ayo, masuk” bibi itu menggandeng tanganku. Aku jelas kaget diperlakukan seperti itu oleh orang selain ibuku.

Eotteokhae?” tanyaku dengan isyarat bibir. Ha Seok tersenyum.

Keokjeonghajima

***

“Ahh, terima kasih sudah menolong Ha Seok kami. Tanpa kau, mungkin Ha Seok sudah mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari pria asing itu” ucap paman Park. Setelah di telpon bahwa aku sudah pulang, kami pun berkumpul di ruang nonton keluarga paman Park.

“Leeteuk-ssi” Rara menyapa Leeteuk malu-malu. Tidak mungkin rasanya seorang big star Korea berada di rumahnya. Tengah malam lagi.

“Ahh, panggil oppa saja” ujar Leeteuk masih memegang pipinya yang lebam. Rara manggut-manggut sambil malu-malu. Aku ingin tertawa melihatnya. Tiba-tiba Rara menyerahkan kamera polaroidnya pada Leeteuk. Leeteuk kaget, begitupun kami yang ada di sana.

“Bolehkah aku berfoto denganmu?” tanyanya lantang dengan seluruh kebenarian yang ia kumpulkan. Leeteuk hanya tersenyum

“Dengan kondisiku seperti ini?” tanya Leeteuk rendah. Sepertinya ia merasa tidak yakin berpose dengan penggemarnya dengan kondisi seperti itu.

“Ahh, kalau kau merasa tidak enak, tidak apa-apa. Aku bisa meminta Ha Seok eonni ke sini” ucap Rara polos diiringi senyum jahilnya. Ingin rasanya aku menjitak kepala anak ini.

“Ahh, dia punya banyak jadwal. Tidak mudah ke sini jika hanya mendengar permintaanmu. Kau! Duduklah di sana” aku menyuruh Rara duduk di sebelah Leeteuk. Leeteuk membulatkan matanya. Tapi, aku pura-pura tak melihat.

“Yakk! Seperti itu. Kau miring sedikit. Biar warna birunya tidak kelihatan. Na, dul, set… creckk!! Terdengar suara shutter kamera itu setelah aku pencet. Keluar kertas persegi panjang di atasnya. Buru-buru aku meraih kertas itu agar tidak jatuh, lalu mengipas-kipaskannya agar gambarnya kelihatan.

“Oke. Sekarang giliranmu, eonni” tiba-tiba Rara mendorongku terduduk di sebelah Leeteuk. Kalau saja Leeteuk tidak sigap menangkap badanku, sudah pasti kepalaku terbentur meja yang ada di depan Leeteuk.

Ya! Kau ini apa-apaan?!” tanyaku sedikit kesal pada Rara. Sama seperti sebelumnya. Dia hanya memberikan senyum jahilnya tanpa memedulikan protesku.

“Kenapa kau berdiri?! Ayo duduk di sana. Ya! Betul. Ahh, kurang dekat” Rara mengomel-omel sendiri saat melihat aku duduk agak jauh dengan Leeteuk, beda dengan posenya barusan. Paman dan bibi Park hanya tertawa melihatku dijahili oleh Rara. Aku hanya bisa pasrah. Ingin berteriak, ini sudah malam dan ini bukanlah rumahku. Apa alasanku meneriaki anak tuan rumah?

Eonni~ kepalamu itu miringkan sepertiku tadi. Kalau kau berjauh-jauhan seperti ini, lebam oppa kelihatan jelas” omel Rara lagi. Aku hanya bisa pasrah. Agar ini semua cepat selesai dan aku bisa pergi tidur, aku mengikuti semua perintah Rara. Tapi, aku merasakan perasaan aneh. Ahh, apa yang ku maksud.

Setelah berhasil mengambil poseku dengan paksa, Rara langsung melenggang ke kamarnya beserta kamera polaroid dan fotoku. “Kau pasti akan membuangnya. Lebih baik aku yang simpan” ucapnya sebelum berlari ke kamarnya. Tentu saja. Emangnya apa yang akan ku lakukan selain itu?

“Leeteuk, sebaiknya kau menginap di sini saja malam ini. Besok pagi biar paman mengantarmu pulang” tawar bibi Park. Aku terbelalak. Untung Rara sudah di kamarnya. Kalau tidak, mungkin dia sudah menawarkan Leeteuk tidur di kamarnya.

“Ahh, aku telpon manajerku saja. Dari sini ke Gwangjin tidak terlalu jauh. Paling cepat setengah jam” tolaknya sembari mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

“Sekarang sudah jam setengah tiga pagi. Tidak baik-terus-terusan tidur di atas mobil” tawar bibi lagi. Aku lemas. Kenapa harus menginap? Biar sajalah dia pulang.

“Baiklah. Aku akan mengirim pesan pada manajerku agar mereka tidak khawatir” Leeteuk mulai mengetik sesuatu di ponselnya yang layar semua.

“Karena kamar tamu sudah di tempati oleh Ha Seok, kau tidur di ruang tamu antara kamar Ha Seok dengan kamarnya Rara, ya? Tidak apa-apa kan?” tanya bibi Park sebelum melangkah ke kamarnya untuk istirahat juga.

“Ahh, di beri tempat untuk istirahat saja aku sudah berterima kasih” Leeteuk menundukkan badannya. Bibi Parak hanya menepuk pundaknya pelan. Lalu menghampiriku.

“Ha Seok, berikan selimut yang ada di lemari kamarmu, ya. Jaljayo” ucap bibi sebelum benar-benar masuk ke kamarnya. Aku membuang nafas. Ah, kenapa harus seperti ini.

Ya! Ikuti aku. Ingat! Jangan macam-macam kau. Besok pagi-pagi kau harus pergi dari sini” aku berubah galak padanya. Kepalanya mengekrut. Aneh melihatku. Jangan pikir aku diam selama di kantor karena aku lemah, ya. Aku masuk sebentar ke kamarku, lalu memberikan selimut dan bantal padanya dan menunjukkan sofa yang bibi Park maksud.

Kamsahamnida untuk selimut dan bantalnya” ujar Leeteuk lalu menyandarkan tubuh di sofa itu saat aku mau masuk ke kamarku. Aku diam saja. Tidak penting. Menurutku.

***

“Apa kau yakin akan mengundurkan diri?” tanya staff yang ada di kantor SM saat aku menyerahkan surat pengunduran diriku. “Kau baru saja masuk, bukan?” tanyanya lagi. Aku hanya tersenyum.

“Ha Seok-a~” seorang perempuan sebaya ibuku muncul. Itu temannya ibuku. Aku membungkuk memberi hormat padanya.

“Kenapa mengundurkan diri. Masa trainingmu baru saja dimulai” ujarnya menuntunku duduk di pojok ruangan.

“Ada alasanku, bu” ucapku pendek. Ibu itu mengkerutkan keningnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengambil ponsel dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

Aku melihat ibu itu hanya mengangguk sambil tersenyum sumringah. Setelah menutup pembicaraannya di ponsel, ibu itu memegang kedua pundakku.

“Tak ada alasan untukmu mengundurkan diri, Ha Seok” ujarnya mengagetkan aku. Dimatanya tentu saja. Dia tidak tahu masalah sebenarnya.

“Kau dipilih menjadi salah satu tim stylist Super Junior untuk konsep photobook dan syuting MV comeback mereka Agustus ini” ujar ibu itu tersenyum cerah. Aku kaget. Tim stylist?

“Sore ini akan ada meeting untuk konsep mereka. Kau diminta hadir disana” ucapnya lagi. Hey! Berarti ada Leeteuk di sana. Bisa-bisa dia mencibirku karena tidak bisa pegang ucapan.

Aku hanya mengangguk memberi persetujuan pada ibu itu. Ia lalu pamit melanjutkan pekerjaannya. Aku seperti penghambat aktivitas orang lain, ya?

Ponselku berdering. Satu pesan masuk. Nomor tidak dikenal.

Temui aku di lantai dasar. Ada yang harus aku jelaskan –leader-

“Oh, laki-laki itu” gumamku. Mau apa dia? Ahh, sebaiknya aku ke sana saja. Aku menutup ponselku dan pergi ke tempat yang Leeteuk suruh.

Leeteuk’s POV

Temui aku di lantai dasar. Ada yang harus aku jelaskan –leader-

Aku menghela nafas. Semoga hal yang akan ku lakukan ini berlalu baik-baik saja.

“Ada apa mencariku?” tiba-tiba seorang perempuan hadir di hadapanku. Aku yang sedang menunduk tentu saja kaget dibuatnya.

Aishi! Kau ini. Selalu saja mengagetkanku. Kenapa suaramu sangat lembut hari ini. Beda seperti malam tadi”

“Apa maksudmu malam tadi. Jangan terlalu dibesar-besarkan” Ha Seok menekankan tiap ucapannya sambil menoleh ke kiri-kanan. Bisa-bisa orang menilainya sudah melakukan hal yang tidak-tidak denganku ini.

“Kau tidak usah mengundurkan diri” ucapku. Ha Seok hanya menatapku. Tangan kananku mengeluarkan sesuatu yang memang sengaja aku sembunyikan.

“Kan! Kau tidak percaya padaku. Tas ini tidak hilang” Ha Seok langsung mengambil tas kertas penyebab masalahnya denganku seharian kemaren.

“Makanya aku memintamu tidak mengundurkan diri. Aku juga mau minta maaf. Kau hampir saja kehilangan pekerjaanmu”

“Ya sudahlah. Lupakan saja. Aku juga diberi proyek baru. Aku akan menjadi tim stylist untuk comeback kalian nanti” ceritanya.

“Ya. Aku sudah tahu itu. Nanti malam kita keluar sebentar bisa, kan?” tanyaku langsung. Jelas saja Ha Seok terkejut dengan pertanyaanku barusan. “Hitung-hitung permintaan maafku”

“Hmm, baiklah” jawabnya setelah berpikir panjang.

“Nanti jam 8 di Mokko Coffe dekat rumah mu saja”

***

“Ya. Aku sudah tahu itu. Nanti malam kita keluar sebentar bisa, kan?” tanyanya langsung. Jelas saja aku terkejut dengan pertanyaannya barusan. “Hitung-hitung permintaan maafku” lanjutnya. Apa ini namanya kencan? 🙂

“Hmm, baiklah” jawabku setelah berpikir panjang.

“Nanti jam 8 di Mokko Coffe dekat rumah mu saja” tambahnya lagi.

“Oke. Aku ke dalam, ya” pamitku padanya yang masih duduk di kursi panjang itu. Dia menggangukkan kepalanya.

“Astaga! Apa dia barusan mengajakku kencan? Apa secepat inikah? Aku tidak sanggup” aku merasa terbang saat akan kembali ke ruanganku tadi. Yang mulai sekarang akan menjadi markas besarku di SM.

“Hey, aku harus memberi tahu Leeteuk virtual itu. Dia harus tau semuanya” aku mengeluarkan ponselku.

“Ahh, tidak usahlah. Dia sepertinya tidak menyukaiku. Waktu itu, aku mentions saja dia tidak membalasnya” aku menyimpan kembali ponselku.

“Ahh, sudahlah” aku membuka kembali ponselku, lalu masuk ke account twitterku.

@specialteukie oppa~ Leeteuk mengajakku makan. Omo~ aku sangat bahagia. Aku ingin bertemu denganmu segera

Ketikku cepat. Setelah tweet itu terkirim, aku memeriksa mentions yang ditujukan kepadaku. Jidatku mengkerut. Astaga! Bagaimana ini?

Leeteuk’s POV

“Aku ke dalam, ya” pamitnya padaku. Aku hanya menggangukkan kepalaku.

Setelah Ha Seok menjauh, aku mengeluarkan i-Padku, dan mengetik sesuatu dengan cepat. Lalu pergi dari tempat itu.

@hana_choi hey! Maafkan aku tidak bisa datang kemaren. Bagaimana kalau malam ini kita keluar? Aku akan mentraktirmu apa saja yang kau mau. Nanti malam jam 8 di Mokko Coffe tempat kemaren, ya? ^^ keyword : boneka beruang kecil

TO BE CONTINUED . . .

DON’T TAKE OUT!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s