What If … [part 5]

Author :  @dbling826

Judul : What If …

Kategori : Continued

Cast :

– Choi Ha Seok (readers)

– Leeteuk

– Super Junior Members

– Choi Ha Seok Family

part 1 – part 2 – part 3 – part 4 – part 5 – part 6 – part 7 – part 8

***

“Ahh, kenapa dia mengajak bertemu hari ini. Di tempat itu pula” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Keywordnya boneka beruang kecil. Aha!” tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku.

“Aku bawa saja strap boneka beruang Leeteuk yang waktu di bandara itu. Nanti sekalian aku kenalkan Leeteuk real dengan Leeteuk virtual” aku cekikikan membayangkan jika mereka nanti berkenalan sambil menyebutkan nama yang sama.

“Oke. Aku akan bertemu dua orang Leeteuk malam ini. Harus bersemangat!” aku tersenyum menghadap jendela. Lalu bersenandung ria merapikan apapun yang ada di ruangan itu. Aku tidak sabar menunggu jam 8 malam.

-Dorm Super Junior-

Leeteuk’s POV

“Kau mau kemana hyung?” tanya Donghae yang melihatku memakai jas semi-formalku. Hari ini jadwal kami hanya ke kantor SM untuk membicarakan masalah comeback kami. Karena tidak ada jadwal lagi, kami para member memutuskan untuk kembali ke dorm untuk beristirahat.

“Ada sesuatu yang harus aku selesaikan” jawabku sambil menatap penampilanku di cermin. Aku harus sanggup mengatakan hal ini nanti. Mungkin kami akan sama-sama kaget.

“Ohh, aku titip camilan, ya. Sepertinya kita sudah kehabisan stok. Manajer hyung mungkin akan belanja bulanan besok. Juga chicken doritang. Aku malas menyuruh Ryeowook memasak” aku mengangguk mengerti. Lalu meraih boneka beruang kecil yang aku beli siang tadi.

“Kau kenapa tampak gugup sekali, hyung?” tanya Donghae melihatku menarik nafas beberapa kali. Aku mendesah. Lalu menceritakan hal yang tidak mungkin antara aku dan Ha Seok.

Jinjja?” ungkap Donghae tak percaya setelah aku selesai bercerita. “Jadi, Ha Seok adalah hana_choi mu itu. Kalian sudah saling kenal di twitter, tapi Ha Seok belum tau bahwa specialteukie itu dirimu?” Donghae merangkum semua hal yang baru saja aku ceritakan. Aku mengangguk pelan.

“Aku takut dia membenciku”

“Mengapa dia harus membencimu? Bukannya dia salah satu fansmu?”

Aku mendesah nafas lagi. Memang iya. Apa yang harus ku takutkan? Mungkin saja Ha Seok senang tau bahwa specialteukie adalah aku, idolanya.

“Ahh, aku hanya takut dia membenciku. Sepertinya aku suka dia” aku mengungkapkan isi hatiku pada Donghae, adik kesayanganku ini.

“Ahh, aku sudah menduganya. Sejak awal bertemu, hubungan kalian tidak baik, bukan. Sudahlah, sekarang temui dia, dan beritahu dia semuanya. Kau mau terus-terusan membohonginya? Tidak, kan?” Donghae memegang pundakku seolah memberikan kekuatan yang luar biasa.

Aku tersenyum melihat Donghae. Ia ikut-ikutan tersenyum. “Baiklah. Aku pergi” lalu berjalan menuju pintu keluar.

“Kau tidak pakai mobilmu, hyung?” Donghae mengingatkan ku.

“Ah iya. Tolong ambilkan kuncinya di kamar” Donghae masuk kembali ke kamar dan membawa kunci mobil bersama sebuah bunga. Sebuah bunga? Darimana ia dapatkan?

“Ini. Aku mengambilnya dari meja di dapur” Donghae tersenyum sembari menyerahkan bunga itu padaku.

“Kau pikir, aku mau melamarnya? Sudahlah. Letakkan ke tempat asalnya. Aku pergi dulu”

Hyung” panggil Donghae. Aku membalikkan badanku.

Fighting!!” serunya sambil mengepalkan tangan kanannya.

***

-Mokko Coffe-

Aku melirik jam tanganku. Jam delapan kurang lima. Apa salah satu dari Leeteuk itu belum ada yang datang? Aku memperhatikan dandananku malam itu.

“Ahh, anak itu” gumamku pelan. Saat ku ceritakan akan bertemu Leeteuk malam ini, Rara langsung heboh. Awalnya aku mau memakai kemeja lengan panjang dipadu celana dasar warna hitam. Ia melarangnya. Akhirnya, aku memakai pakaian ini. Kemeja polkadot krem lengan pendek yang dimasukkan ke rok hitam dua jari di atas lutut. Biar lebih girly katanya. Memangnya aku mau ke mana? Ketemuan di cafe juga.

Seseorang yang ku kenal masuk. Tampaknya ia mencari seseorang. Setelah melihatku melambai-lambaikan tangan, ia pun bergegas mengahmpiriku. Waow! Tampan sekali laki-laki ini. Celana panjang hitam yang ia kenakan membuatnya terlihat lebih tinggi. Dengan kaus garis-garis yang dibalut kemeja semi-formal berwarna krem yang ia kenakan, auranya sebagai laki-laki dewasa tampak. Tangan kanannya memegang sebuah kantung kecil

“Sudah lama menunggu?” tanyanya begitu duduk di kursi yang berhadapan denganku dan meletakkan kantung yang ia pegang tadi di kursi sebelahnya.

“Ahh, tidak juga” jawabku pendek. Astaga! Kenapa aku jadi setegang ini?

Lama kami berdua terdiam. Tidak tahu harus membuka obrolan apa. Masalah di kantor? Masalah comeback mereka? Atau masalah kami? Masalah kami?

Nae… naega” obrolan kami lagi-lagi bertubrukan. Bukannya rileks, suasana ini membuat kami tambah canggung. Ahh, eotteokhae?

“Kau duluan” ucapnya. Aku menangkap raut aneh di mata Leeteuk. Tapi aku tidak tahu itu apa.

“Ada temanku yang akan datang juga. Tidak masalah, kan?” tanyaku lambat padanya. Siapa tahu dia bisa sensitif mendengar pertanyaanku barusan.

“Hmm” jawabnya pendek. Aku girang. Untunglah dia tidak banyak tanya. Tapi tumben malam ini dia menjadi pendiam. Tak apalah. Itu membuatnya lebih keren.

Dua puluh menit telah berlalu. Capuccino hangat yang kami pesan sambil menunggu Leeteuk virtualku perlahan-lahan habis. Aku jadi tidak enak hati pada Leeteuk. Kan dia yang mengajakku. Aku malah mengajak teman juga.

Mianhae. Mungkin temanku belum tau tempat ini. Lebih baik aku mengirim mention padanya” aku membuka layar ponselku.

“Kau belum pernah bertemu dengannya?” tanya Leeteuk sedikit heran.

“Hmm” jawabku pendek. Fokus pada layar ponselku. “Kami berkenalan lewat twitter” jelasku tanpa menoleh padanya.

“Kalau dia penipu, bagaimana?” aku tersentak mendengar pertanyaan Leeteuk barusan. Apa maksudnya?

“Ya, kau kan belum pernah bertemu dengannya langsung. Kau juga mengenalnya waktu masih di Indonesia, kan?” Leeteuk menjelaskan maksudnya pertanyaannya. Benar juga sih.

“Entah kenapa aku percaya padanya” jelasku tanpa dipikirkan dulu. Leeteuk terlihat terkejut mendengar penjelasanku barusan.

“Aku merasakan kebaikannya karena dia selalu membalas mentionsku. Aku yakin, dia mungkin admin sebuah fanbase atau semacamnya. Tapi, dia lain. Aku seolah telah mengenalnya sangat lama bahkan seolah sudah sering bertemu dari obrolan panjang kami. Aku pun demikian” jelasku panjang, tidak lagi fokus pada ponselku.

“Kau juga tidak mengenal identitas aslinya, kan?” tanya Leeteuk lagi. Aku mengangguk.

“Identitas siapa yang ia gunakan saat ia mementionsmu?” pertanyaan Leeteuk yang terakhir benar-benar membuatku kaget. Mengapa ia bisa bertanya seperti itu. Jarang sekali aku mendengarkan pertanyaan seperti itu. Kalau memang dia ingin tahu, dia pasti menanyakan namanya, kan? Bukan nama samaran yang biasa orang gunakan untuk saling berkenalan di dunia maya.

“Maksudmu?” ulangku. Leeteuk menarik nafasnya.

Ia mengambil kantung yang tadi ia letakkan di kursi sebelahnya, dan mengeluarkan isinya. Aku kaget. Apa yang sedang terjadi?

“Bagaimana kalau aku specialteukie itu? Pertanyaannya barusan menggoyangkan jantungku, membuatnya berdetak lebih cepat. Ratusan kali lebih cepat dari semula.

“Ka…kau…kau spe…special…teukie…” ucapku terbata-bata. Shock. Ternyata inilah rasanya shock itu.

“Ya. Akulah specialteukie yang selama ini kau kenal” pernyataannya membuatku lebih shock lagi. Aku tidak tahu harus bahagia, kaget atau heran. Semuanya telah menjadi satu dihatiku. Benak dan pikiranku. Tiba-tiba ingatanku berputar. Pada malam saat Leeteuk menolongku dari dua preman.

“Kau specialteukie?” ulangku lemah. Tidak percaya apa yang sedang terjadi di dunia ini.

“Ya” angguknya. “Malam itu. Aku datang, karena aku membaca mentionmu”

Ya Tuhan. Kenapa hatiku kacau seperti ini? Aku merasa dibohongi. Aku pikir, mereka dua orang yang berbeda. Aku pikir Leeteuk datang menolong karena dia memperhatikanku. Aku pikir, aku bisa mengenalkan Leeteuk virtual dengan Leeteuk asli. Aku pikir, aku pikir semuanya tidak mungkin terjadi.

“Lalu kenapa kau mengajakku bertemu tepat jam delapan malam sama dengan yang specialteukie pinta?” tanyaku lirih. Aku ingin menangis. Menangis? Menangis untuk apa? Untuk kebohongan? Ini bukan kebohongan. Ini kebetulan. Kebetulan yang membuatku sakit karena kebenaran yang terus ia pendam, yang membuatku bahagia karena berharap bisa bertemu dua Leeteuk dalam waktu bersamaan  sekaligus kebetulan yang membuatku menjadi seorang idiot yang tidak tahu apa sedang terjadi.

“Aku ingin meluruskan semuanya. Aku ingin kau juga tahu bahwa aku specialteukie itu”

“Aku juga tahu katamu?! Sejak kapan kau tahu aku hana choi?” teriakku tertahan. Airmata ku pun mengalir. Tetes demi tetes.

“Sejak kita bertemu” jawabnya pelan.

“Sejak kita bertemu?!” ulangku lebih kaget lagi. “Kenapa kau tidak memberitahuku? Kau sengaja membuatku terlihat bodoh di matamu, kan? Kau senang bisa melihatku tidak tahu apa-apa kan? Kau senang membodohi gadis pendatang sepertiku, kan?!” aku bangkit dari duduk ku. Sebuah benda kecil terjatuh dari pangkuanku. Aku memungutnya.

“Ambil ini!” aku melempar benda yang aku pungut ke hadapannya. Aku melempar beruang yang ku pungut beberapa waktu lalu. Strap beruangan miliknya. “Aku tidak butuh ini lagi untuk mengenal specialteukie itu!” aku berlari keluar cafe.

“Hana! Dengar penjelasanku dulu!” teriakan Leeteuk mencoba menghalangi langkah kaki yang sengaja aku panjangkan. Sejak kita bertemu katanya? Shiit!

Aku bersembunyi di balik tong sampah. Aku yakin, Leeteuk pasti menyusulku. Dan benar! Tak lama aku terduduk di situ, suara derap kaki diiringi suara pemiliknya yang terus-terusan memanggil namaku hadir memecah kesunyian. Aku membekap mulutku. Mencoba menahan tangisku. Lima detik, satu menit, tiga menit, enam menit, sepuluh menit, ia akhirnya menyerah. Aku mendengar derap kaki yang kecewa. Kecewa atau senang? Aku tidak bisa memastikan itu. Aku hanya menangis. Menangis sepuasnya di sebelah tong sampah itu.

Leeteuk’s POV

“Sejak kita bertemu” jawabku pelan.

“Sejak kita bertemu?!” ulang Ha Seok lebih kaget lagi. “Kenapa kau tidak memberitahuku? Kau sengaja membuatku terlihat bodoh di matamu, kan? Kau senang bisa melihatku tidak tahu apa-apa kan? Kau senang membodohi gadis pendatang sepertiku, kan?!” ia bangkit dari duduknya. Menunduk, memungut sesuatu yang jatuh dari pangkuannya.

“Ambil ini!” ia melempar sesuatu yang aku kenal di hadapanku. Ia melempar beruang yang terpisah denganku. Strap beruangan milikku. “Aku tidak butuh ini lagi untuk mengenal specialteukie itu!” ia berlari keluar cafe meninggalkanku.

“Hana! Dengar penjelasanku dulu!” aku mencoba menahannya. Aku sudah menduga. Hal ini pasti akan terjadi. Ia pasti kecewa, aku tidak memberitahunya sejak awal bahwa aku adalah specialteukie dan aku mengenalnya juga sebagai hana choi. Aku mengambil kunci mobil dan dua beruang yang tergeletak di atas meja. Sial! Pelayan mencegatku. Buru-buru aku mengeluarkan dompet dan membayar pesanan kami tadi, dan mencoba mengejar Ha Seok yang pastinya semakin menjauh.

Aku membuka pintu cafe itu. Menoleh ke kiri dan ke kanan. Itu dia! Aku berlari, mencoba mengikuti bayangannya yang mulai menghilang. Pertigaan! Ia kemana? Aku tidak mungkin menyusuri  salah satu jalan dari pertigaan ini. Pilihan selalu membuat susah.

“Ha Seok!” aku berteriak, berharap ia membalas teriakanku. Berkali aku teriak, tetap tidak jawaban. Aku berbalik. Mungkin ia sudah pulang. Tanpa ku sadari, seorang polos menangis di pojok sana.

***

“Kau tidak apa-apa Ha Seok” tanya bibi pagi itu. Sudah pasti ia cemas melihat mataku dengan bundaran hitam yang menghiasi.

“Aku tadi malam tidak tidur memikirkan konsep comeback Super Junior, ahjumma. Aku tidak apa-apa” aku memakai sepatu yang biasa aku gunakan untuk pergi ke tempat kerjaku.

“Lebih baik kau tidak ke kantormu hari ini. Kau sepertinya sangat lelah”

“Aku harus ke kantor hari ini. Ada beberapa rapat yang harus kuhadiri sebelum comeback Super Junior” aku berdiri dan merapikan balzer yang aku kenakan. “Aku pergi dulu”

“Kalau kau tidak enak badan, jangan dipaksakan, ya” seru bibi Park dari pintu. Aku hanya melambaikan tanganku.

Kejadian semalam membuatku benar-benar kacau. Leeteuk virtual sama dengan Leeteuk real? Aku tidak habis pikir. Seharusnya aku senang dan memamerkan pada semua orang bahwa teman twitterku itu adalah member boyband yang sangat terkenal. Tapi, yang membuatku sakit hanya satu. Mengapa dia menyembunyikan identitasnya? Sementara ia tahu bahwa aku adalah hana choi itu. Sepertinya dia sangat senang membodohiku seperti ini. Dari awal kami bertemu lagi. Aku berjalan pelan ke arah halte bus. Baru beberapa hari di sini, sangat banyak masalah yang aku hadapi. Inikah makna kehidupan sebenarnya?

“Ha Seok-a” seseorang memanggilku. Aku berbalik.

“Dia lagi” umpatku dalam hati. Tidak puas sudah menipuku? Aku mempercepat langkahku menuju halte bus. Semakin cepat aku melangkah, semakin cepat pula ia berlari. Kini kami berdiri bersampingan di halte bus itu. Sama-sama diam.

“Aku tahu aku salah. Mianhaeyo. Jeongmal mianhae” ucapnya pelan.

Aku diam saja. Aku tidak mau mengingat masalah itu lagi sebenarnya. Aku ingin bisa bekerja dengan baik. Dengan santai tanpa ada masalah seperti ini.

“Aku sengaja tidak memberitahumu karena aku juga ingin tahu apa kau memang hana choi yang selama ini ku dengar. Ku mohon, dengarkan aku dulu”

Aku tetap tidak menggubrisnya. Untunglah bus yang ku tumpangi datang. Segera aku naik setelah pintunya terbuka secara otomatis.

“Ha Seok. Tolong dengarkan aku dulu” ia memegang pergelangan tanganku. Aku terhenti. Mataku melebar menatapnya. Aku tidak bisa melihat kedua matanya karena ia menggunakan kacamata hitam dan topi. Pasti untuk menutupi identitasnya. Apa dia juga malu menemui orang biasa sepertiku di tempat umum seperti ini?

“Nona, apa kau mau menggunakan bus ini?” tanya supir itu yang menungguku sejak tadi.

“Lebih baik kau kembali ke dorm mu atau kembali ke kantor SM. Nanti kita akan membicarakan masalah comeback kalian. Apa tidak capek berkeliaran pagi-pagi seperti ini?” aku melepaskan tanganku yang ia pegang, dan melompat masuk ke dalam bus itu. Tidak sampai lima menit, bus itu berangkat meninggalkan Leeteuk yang tertunduk.

Leeteuk’s POV

“Ha Seok. Tolong dengarkan aku dulu” aku memegang pergelangan tangannya. Mencoba menahannya agar tidak naik ke bus itu dan mau mendengarkan penjelasan dan semua maksudku. Kalau saja dia mau mendengar dan mengerti sedikit demi sedikit yang aku jelaskan, masalah ini pasti akan selesai.

“Nona, apa kau mau menggunakan bus ini?” tanya supir bus yang sejak tadi menunggu Ha Seok.

“Lebih baik kau kembali ke dorm mu atau kembali ke kantor SM. Nanti kita akan membicarakan masalah comeback kalian. Apa tidak capek berkeliaran pagi-pagi seperti ini?” ia melepaskan tanganku di pergelangan tangannya.

Aku melepaskan tanganku dari pergelangan tangannya. Hanya pasrah melihatnya naik ke bus itu tanpa mau mendengarkan penjelasanku secara detail. Aku tertunduk. Melihat bus itu meninggalkanku dan penjelasanku.

***

“Ha Seok annyeong” sapa karyawan lain di gedung SM. Aku tersenyum ramah sambil membungkukkan badanku.

“Ha Seok, kau langsung ke lantai tiga, ya. Sebentar lagi mereka akan membahas hal-hal yang perlu disiapkan untuk comeback Super Junior” aku menunduk tanda mengerti. Aku langsung naik ke lantai tiga tanpa singgah dulu ke ruanganku.

Masih sepi. Aku memutuskan untuk menunggu di dalam ruang pertemuan. Sebentar lagi mereka pasti akan tiba di ruangan ini. Tak lama aku duduk di sana, seorang petugas masuk memasang LCD yang akan digunakan untuk rapat kali ini. Tak lama kemudian, masuk beberapa orang yang bekerja keras untuk comeback ini. Koreografer, penata musik, penata artistik, penata busana, stylist dan semuanya hadir. Aku di sini adalah salah satu asisten dari stylist. Ternyata sudah tiga bulan mereka menyiapkan proyek besar ini. Tiga minggu lagi mereka akan tampil di salah satu acara musik terkenal di Korea dan lusa mereka akan mulai mengambil beberapa foto untuk cover album dan teaser comeback mereka yang akan diedarkan di internet lalu hari berikutnya mereka akan memulai proses syuting MV. Berarti ada waktu dua minggu untuk menyelesaikan semuanya dengan sempurna.

Dengan seksama aku memperhatikan tiap detail yang di ucapkan oleh pemimpin yang menangani proyek ini. Setengah jam kemudian, Ryeowook, Yesung, Donghae, Eunhyuk, Kyuhyun, Sungmin dan Siwon masuk ikut rapat. Aku tidak melihat Leeteuk. Dimana dia?

“Ha Seok-a~” Ryeowook menyapaku sambil melambaikan tangannya. Ia duduk di dekat pemimping proyek ini. Aku membalasnya. Anak itu selalu ramah dimanapun ia berada.

Tak lama kemudian Heechul masuk. Disusul Shindong dan Leeteuk. Muncul juga dia akhirnya.

“Kalian mulai besok harus siap. Kita akan mulai mengambil foto dua hari lagi. Seharian itu kita habiskan untuk semua member” jelas bapak itu diikuti anggukan para member.

“Aku mohon kerja samanya dari tim stylist. Kalian sudah tau tema comeback kita kali ini, kan?” aku mengangguk.

“Karena judul kita Mr Simple, tolong jangan terlalu berlebihan. Berikan suasana yang elegant untuk foto dan syuting MV nanti” lanjutnya. Kali ini kami para stylist mengangguk.

“Oke rapat hari ini selesai. Tolong persiapankan semuanya dengan baik agar proyek yang kita tangani ini sukses besar” kami pun bubar dari ruangan itu.

“Ha Seok” seseorang memanggilku. Aku menoleh. Ryeowook ternyata.

“Aku sudah mendengar masalahmu tadi dari Donghae hyung” aku terdiam. Bahkan Donghae pun sudah tahu masalah ini?

“Kau tidak usah memikirkannya, ya. Hyung pasti punya alasan melakukan hal ini” aku diam saja mendengar ucapan Ryeowook.

“Aku juga sudah tidak memikirkannya lagi” aku buka suara akhirnya.

“Ayo kita ganti topik” Ryeowook mencoba mencari topik obrolan lain. “Kita ngobrolnya di sana saja, ya” lanjutnya. Aku mengikuti langkahnya. Kami duduk di salah satu kursi yang ada di lantai tiga. Menghadap ke jendela yang memperlihatkan pagi Seoul yang lumayang sibuk.

“Aku masih bingung dengan proyek ini. Karena aku kan baru masuk kerja di sini” jelasku.

“Ahh, kau tenang saja. Kau pasti nantinya akan disuruh-suruh oleh kepala bidang stylist. Anggap saja ini salah satu ujian di masa trainingmu sebelum kau menjadi karyawan resmi SM” Ryeowook menasihatiku. Aku mengangguk. Ada benarnya kata Ryeowook. Paling aku disuruh membawa ini dan itu nantinya.

“Aku ke ruang latihan dulu, ya? Sampai ketemu nanti” Ryeowook bangun dari duduknya. Aku juga.

“Sepertinya ada beberapa hal yang akan dibahas di bidangku. Sampai ketemu nanti” aku melambai pada Ryeowook. Ia pun berlari ke ruangan tempat ia biasa latihan bersama member lainnya.

Leeteuk’s POV

“Ha Seok” tampak Ryeowook memanggil Ha Seok. Ia berbalik mendengar panggilan itu. Tersenyum. Beda dengan sikapnya jika aku yang memanggilnya.

Aku tidak menangkap apa yang sedang mereka bicarakan. Sepertinya sesuatu yang rahasia dan sangat penting. Apakah itu? Apa Ryeowook menyukai Ha Seok juga? Tapi, dia tidak pernah menceritakan hal ini. Biasanya dia selalu menceritakan apapun yang ia rasakan.

Mereka berjalan. Duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Apa mereka sedang menyatakan perasaan masing-masing?

Dengan pikiran aneh yang tiba-tiba muncul, aku memutuskan untuk ke ruangan latihan. Daripada aku sakit hati. Sakit hati? Haruskah? Apa benar kata Donghae. Aku mulai menyukai Indonesia gadis ini.

***

“Kita tidak punya banyak waktu. Aku mohon kerja sama kalian untuk proyek besar ini. Jika proyek ini berhasil di pasaran, itu tandanya kerja keras yang sudah kita siapkan selama ini tidak sia-sia” kepala bidang stylist membuka rapat divisi kami. Aku merekamnya dengan baik.

“Ha Seok, walau kau baru di sini, aku harap kita bisa melakukan kerja sama dengan baik. Kau mungkin akan aku suruh-suruh. Tolong pengertiannya. Ini juga salah satu dari masa trainingmu” ibu kepala bidang stylist itu mengejutkanku karena tiba-tiba memanggilku.

“Kata bagian karyawan, jika kau berhasil, itu tandanya kau secara resmi diterima sebagai karyawan SM. Tanpa harus melewati tiga bulan masa trainingmu”

Jinjjayo?!” tanyaku tak percaya. Akhirnya. Aku harus fokus pada proyek ini. Lalu, ibu itu membagikan satu map konsep foto dan MV mereka.

“Kali ini judul lagu mereka Mr Simple. Style mereka tidak perlu kelihatan mahal atau wah. Yang penting, kita harus bisa membuat mereka tampil elegant dengan dandanan yang simpel. Sesuai dengan judulnya. Mr Simple” ibu itu menjelaskan secara rinci isi dari map yang berisi konsep untuk album kelima ini. Aku mendengarkan dan memperhatikan isi map itu dengan baik.

“Aku sudah membagikan draft member yang harus kalian perhatikan style mereka secara keseluruhan beberapa hari ke depan” stylist yang hadir di sana mengangguk kecuali aku. “Untuk Ha Seok, kau ikut bagian Sora, menangani Shindong dan Leeteuk” lanjutnya.

Jleeb!! Aku kaget. Kenapa aku selalu dihubung-hubungkan dengan leader itu? Bisa-bisa dengan mudah aku tidak lulus ujian training ini. Ya Tuhan! Seandaikan aku bisa menawar.

“Hmm, mianhaeyo” ucapku pelan. Ibu itu menoleh mendengar ucapanku barusan.

Waeyo, Ha Seok?” tanyanya heran. Aku jadi tidak berani mengungkapkan isi hatiku.

“Apa boleh aku memperhatikan sytle Ryeowook atau yang lainnya?” pelan-pelan aku ungkapkan keinginanku.

“Ahh, sepertinya tidak bisa. Formasi kita seperti ini sampai repackaged album mereka nanti”

Aku menghembuskan nafas. Hah! Kenapa tidak bisa?

“Baiklah. Sampai ketemu besok. Tolong jaga kondisi kalian hingga beberapa minggu ke depan mengingat lusa kita mungkin tidak tidur untuk menyelesaikan proyek ini satu demi satu” ibu itu lalu keluar dan kembali ke ruang kerjanya di lantai tiga.

Aku tetap duduk di ruangan itu karena itu adalah ruang kerjaku bersama beberapa staff lainnya. Aku bingung. Bagaimana sikapku nanti pada Leeteuk? Tidak mungkin aku diam saja saat berhadapan dengannya. Apa aku harus mendengarkan penjelasannya agar kami bisa berkomunikasi dengan baik?

TO BE CONTINUED . . .

DON’T TAKE OUT!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s